Daniel dan generasinya hidup dalam jaman Orde Baru dimana kebebasan sangat dikekang. Dalam situasi itulah, hal yang paling mungkin dilakukan adalah berpikir dalam-dalam. Ketika aktivisme dihadapi dengan peluru maka satu-satunya pelarian adalah melakukan kerja otak karena jauh lebih sulit untuk dikontrol.
Ada masanya ketika kerja otak ini membuah hasil yang sangat cemerlang. Daniel Dhakidae membuktikannya dengan Majalah Prisma, yang pada tahun 1980-1990an menjadi benchmark pemikiran di Indonesia. Tulisan-tulisan berbobot lahir dari media ini.
Peranan media semacam Prisma ini surut ketika mulai muncul perlawanan-perlawanan terhadap rejim Orde Baru. Memang peranan pemikir ini masih diidealisasi pada tahun 1990an. Kompas, media paling besar Indonesia saat itu, bahkan membuat Forum Indonesia Muda untuk “mencetak” intelektual-intelektual muda. Seakan mencetak kaum intelektual semudah mencetak koran.
Namun keadaan berubah pada awal tahun 90an. Generasi baru aktivis muncul. Mereka melawan lebih frontal dan lebih serius terjun ke lapangan. Mereka hidup di kantong-kantong buruh dan kaum miskin kota dan bermimpi melakukan revolusi sosial.
Tidak mengherankan bila kedua jenis aktivisme ini bentrok tajam. Para aktivis kelompok diskusi mendapat beasiswa belajar keluar negeri. Para aktivis revolusi mendapat beasiswa di penjara.









