Daniel Dhakidae: Wakil Sebuah Generasi Intelektual

oleh -438 views

Kedua sistem ini sangat menekankan pada otoritas. Di kelas guru-guru seringkali hadir dengan rotan atau penggaris. Sementara di seminari, guru-guru adalah para pater yang, seperti namanya, sangat paternalistik.  

Sistem itu pendidikan itu tentu saja menantang orang seperti Daniel. Tidak heran jika dia melawannya. Di UGM itu dilakukan dengan tidak mengurus ijin penelitian, misalnya.

Dari sisi usia, Daniel sepantaran dengan Th. Sumartana, Nurcholish Madjid, Ignas Kleden, Sjahrir, Rahman Tolleng, Gunawan Moehammad, Johan Effendi, Arief Budiman, dan masih banyak lagi. Sekalipun tidak sama umur, mereka berasal dari satu generasi dan punya pengalaman generasional yang mirip.

Nama-nama diatas dikenal intelektual. Mereka menjadi intelektual karena kemampuannya menelaah dan mencandra berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Daniel sangat tertarik dengan dunia intelektual itu sendiri. Dia menulis sebuah buku tebal tentang peranan intelektual dan hubungannya dengan kekuasaan.

Dia menyoroti peranan intelektual dalam membentuk kekuasaan. Daniel memiliki ideal tersendiri terhadap intelektual dengan peranan dalam masyarakat. Dalam hal ini, dia mirip Arief Budiman yang melihat intelektual dan kaum cendekiawan seperti seorang “Resi,” yang mengasingkan diri dari hidup sehari-hari masyarakat dan turun gunung ketika masyarakat memerlukannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.