Dari Fola Wonge Ke Fola Sufi

oleh -345 views
Link Banner

Oleh: Moksen Idris Sirfefa, Alumni IAIN Ternate Tinggal di Jakarta

Tiba-tiba saya berpikir tentang pentingnya membangun komunitas spiritual yang berbasis pada kearifan lokal. Tetapi saya butuh waktu dan banyak referensi untuk membicarakan hal ini. Seperti apakah wujud dari komunitas spiritual seperti itu di tengah arus materialisme dan hedonisme dunia yang begitu kencang.

Secara geneologi, Islam yang masuk di bumi Moloku Kie Raha (MKR) adalah Islam yang bercorak mistik. Orang-orang MKR memandang corak Islam ini inline dengan pandangan dunia mereka tentang Tuhan, alam dan manusia. Hal itu dapat kita temukan dalam tradisi (sastra) lisan berupa tamsil, dorobilolo, dalil tifa dan dalil moro yang sarat dengan isyarat (alegori), nukat (aforisme mistik) dan hikayat (anekdot).

Khazanah spiritual yang luar biasa kaya ini menjadi warisan masa lalu yang bernasib tragis di masa belakangnya. Tatkala generasi baru di daerah itu memasuki masa kehidupan moderen, kearifan masa lalu itu makin kehilangan bekasnya. Generasi belakang hanya mengenal ilmu pengetahuan dan kewajiban agama sebagai dampak peradaban sekolah. Sementara kesadaran tentang jalan spiritual ( tharîqah) yang berkembang di masa lalu hanya diminati segelintir anak muda dalam obrolan lepas rumah kopi.

Ternate dan Tidore yang di masa kini adalah nama dari pusat pemerintahan kota merupakan sentrum MKR yang jaya di masa lalu. Karakteristik dua kota ini berbeda. Jika dibandingkan dengan Haramain, Ternate adalah Mekkah, meltingpot yang penuh dengan hiruk-pikuk manusia dari pelbagai kabilah di sekitarnya. Layaknya kota perdagangan dan jasa yang sarat dengan persaingan dan kejumawaan. Semua bersaing untuk eksistensi dan gengsi sosial. Sedangkan Tidore adalah Madinah yang sepi dari hiruk-pikuk pasar, kompetisi dan kemewahan. Layaknya kota dengan eksotisme spiritual yang kental, suasana di Tidore “dingin” (adem), monoton dan seragam. Kondisi ini menjuruskan masyarakatnya pada kebijaksanaan ( wiseful, unpretentious) dan cenderung tertutup. Ketertutupan dalam konteks spiritual tidak dalam makna politis. Hal itu membuat Tidore memiliki peluang kuat menjadi pusat pengembangan spiritual dibanding Ternate. Untuk ke tahap itu, diperlukan encouragement di kalangan komunitas muda pada pengembangan tradisi spiritual masa lalu melalui pendirian pusat pengajaran Tashawuf.

Baca Juga  Peran Baru Lionel Messi di Barcelona, Ronald Koeman Belajar dari Lionel Scaloni

Dalam dunia Tashawuf — sebagaimana saya kutip secara panjang lebar dari Wikipedia — dikenal dengan khanqah atau khânîqah (juga dieja khankah, khaneqa, khanegah atau khaneqah (bahasa Persia: خانقاه)), dikenal pula dengan nama ribat (رباط), adalah sebuah bangunan yang dirancang khusus sebagai tempat perkumpulan Thariqah Sufi dan juga merupakan tempat mereka menjauhi peradaban untuk ber- ‘uzlah dan mengubah karakter. Sebelumnya, khanqah juga berfungsi sebagai rumah perawatan untuk orang-orang salik (pengelana Sufi) dan para murid. Khanqah seringkali terletak bersebelahan dengan dargah (tempat suci Sufi), masjid dan madrasah.

Di dunia Arab (terutama di Afrika Utara, Maghribi), khanqah dikenal sebagai sebuah zāwiyah (bahasa Arab: زاویه‎, jamak zāwiyāt; juga dieja zawiya, zāwiya atau zaouia). Di Turki, Iran, dan bekas wilayah Kesultanan Utsmaniyah (seperti Albania dan Bosnia), bangunan ini disebut tekije (تكيه; juga dieja tekke, tekyeh, teqe atau takiyah). Di Asia Selatan, istilah khanqah dan dargah mengacu kepada tempat suci Sufi.

Khanqah dapat ditemui di seluruh dunia Islam, dari Maroko hingga Indonesia. Namun untuk Indonesia, tidak terdapat istilah baku untuk tempat penggemblengan spiritual ala khaniqah, zawiyah atau ribat tersebut. Istilah padepokan yang kemudian berkembang menjadi pesantren pada awalnya mungkin sebuah khanaqah atau zawiyah, yang terpapar lingkungan duniawi berubah menjadi pesantren yang mengajarkan ilmu keduniaan. Tetapi bisa jadi, dunia pemujaan roh gaib di negeri MKR yang kita kenal dengan sebutan Fola Wonge adalah khanaqah atau zawiyah pra Islam. Institusi ini bisa ditransformasikan menjadi Fola Sufi, tempat penggemblengan spiritualitas Islam. Tetapi bagaimana membangun kembali tradisi masa lalu dan mentransformasi institusi Fola Wonge ke dalam institusi Fola Sufi dengan segala tata cara ritusnya membutuhkan usaha yang tidak gampang.

Baca Juga  Menteri PAN-RB Akan Bubarkan Dewan Pers, Komisi Informasi, dan Komisi Penyiaran?

Bisakah kita membangun obsesi gila ini di era kini? Pertanyaan berikut, jika komunitas 4.0 ( internet is things) menjadikan perangkat teknologi informasi sebagai kebutuhan paling mendasar untuk meraih kemajuan, bisakah perangkat sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan dan komputasi kognitif digunakan sebagai instrumen membentuk komunitas spiritual dengan zawiyah virtual? Jawabnya bisa iya bisa tidak. Iya, karena norma atau aturan hidup dan berperilaku bahkan tatacara ibadah dapat diakses lewat teknologi media informasi. Sedangkan tidak, karena — seperti keadaban dalam dunia Tashawuf — keberadaan seorang pembimbing ( mursyid) secara fisik adalah paling utama. Sebab transfer pengetahuan antara seorang mursyid dan murid dapat terjadi lewat pencerapan langsung huruf dan kalimat serta gestur sang mursyid. Terkadang penyajian makanan kecil (cemilan) dan minuman tertentu dari sang mursyid kepada para muridnya menjadi media transfer ilmu. Bahkan dalam kasus tertentu, bau badan sang mursyid menjadi incaran para murid. Kisah Ukasyah bin Mihshan, dimana dengan alasan cerdasnya ia berhasil memeluk tubuh Rasulullah S.a.w adalah contoh dari tradisi mistik ini. Itu sebabnya, pusat peradaban Tashawuf itu harus dibangun dalam wujud fisik bukan virtual. Mengapa?

Baca Juga  Bassam Kasuba Kinjungi Warga Korban Kebakaran di Amasing Goro

Karena dengan adanya hijab antara dunia maya dan dunia fisik, khanaqah atau zawiyah virtual perlu diwujudkan dengan pendekatan 5.0, dimana “manusia” menjadi pusat keadaban hidup, sebagai khalifah di muka bumi. Definisi asli peradaban ini adalah ” a human-centered society that balances economic advancement with the resolution of social problems by a system that highly integrates cyber space and physical space” tapi dalam perspektif manusia dua dimensi ala Profesor Komaruddin Hidayat adalah rational beeing dan spiritual beeing, pendekatannya berbeda. Jika keseimbangan yang dimaksud oleh society 5.0 adalah mengharmoniskan hubungan antara dunia maya ( cyber world) dengan dunia nyata ( physical world), maka society 5.0 atau versi Islam kita sebut ummah 5.0 adalah mengarahkan manusia (fisik) pada dimensinya yang lebih spiritual, spiritual-centered society.

Konsep keseimbangan ini berasal dari doa harian muslim, rabbanâ ãtinâ fi al-dun-yá hasanati wa fi al-âkhirati hasanati wa qinâ adzâba al-nâri. Inilah rambu-rambu yang memagari manusia agar dalam hidupnya tak boleh berlebihan, tidak pongah, tidak rakus, tidak sewenang-wenang, tidak sombong dan sebagainya. Sebaliknya, selaku manusia spiritual, ia harus tetap rendah hati, empati, qana’ah dan zuhud ( loa se banari) dan sebagainya yang merupakan pangkal Akhlak-Tashawuf. Pada titik ini, saatnya kita memikirkan pendirian khanaqah atau zawiyah yang khas MKR, Fola Sufi.

Ciputat, 21 April 2021.