Mulyono adalah nama kecil Joko Widodo. Mulyadi adalah bagian dari nama Dedi Mulyadi. Dua nama yang tentu saja merujuk kepada dua pribadi berbeda. Tetapi dalam percakapan publik, keduanya dipertautkan bukan karena kesamaan pribadi, melainkan karena sebuah pola yang dirasakan: pemimpin yang tumbuh dari popularitas.
Ungkapan itu terdengar ringan, tetapi sesungguhnya getir. Ia seperti tawa yang menyembunyikan kecemasan. Bahwa setelah satu figur yang sangat populer berkuasa, publik mulai membayangkan kemungkinan datangnya figur lain yang juga dibesarkan oleh mekanisme popularitas yang sama.
Benarkah sejarah akan bergerak dari Mulyono ke Mulyadi?
Tentu belum ada yang tahu. Pemilu belum berlangsung, dan survei bukanlah hasil pemilihan. Tetapi justru karena itulah ungkapan tersebut menarik. Ia menunjukkan bahwa sebagian masyarakat tidak lagi sekadar memperbincangkan siapa yang akan menang, melainkan mulai mempertanyakan mengapa orang-orang tertentu begitu mudah menjadi populer dan kemudian dianggap layak memimpin.
Di balik kelakar itu ada semacam kelelahan politik. Seolah-olah bangsa ini sedang berputar dalam lingkaran yang sama: memilih mereka yang paling dikenal, kemudian berharap setelah berkuasa mereka akan membuktikan diri sebagai yang paling mampu.









