Dalam surat terbuka itu disebutkan, masyarakat harus membeli air menggunakan mobil tangki dengan biaya sekitar Rp200 ribu sekali pengisian.
Karena kebutuhan air tidak hanya sekali dalam sebulan, pengeluaran masyarakat disebut bisa mencapai sekitar Rp600 ribu hingga Rp1 juta per bulan.
Beban tersebut tentu sangat berat bagi masyarakat yang sebagian besar disebut berasal dari kelompok ekonomi rendah. Sementara itu, proyek air bersih yang diharapkan menjadi solusi justru belum memberikan manfaat sebagaimana mestinya.
Warga bahkan mempertanyakan mengapa dua proyek air bersih dibangun pada lokasi yang sama.
Alasan Panel Surya dan Cuaca
Salah satu persoalan yang ikut mencuat adalah penggunaan tenaga surya untuk mengoperasikan sistem air bersih.
Dalam surat terbuka yang diberitakan Porostimur.com pada Desember 2024, warga mengutip penjelasan Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Maluku, Nur Mardas, yang menyebut kondisi cuaca tidak stabil menyebabkan mesin tenaga surya tidak mampu memompa air.
Penjelasan tersebut justru dipertanyakan warga. Sebab, proyek telah selesai beberapa tahun sebelumnya, tetapi masyarakat tetap belum menikmati manfaatnya secara optimal.
Warga mempertanyakan mengapa persoalan cuaca baru menjadi alasan setelah proyek berjalan selama beberapa tahun. Bahkan, warga menilai proyek tersebut telah gagal memenuhi tujuan awal pembangunannya.









