Dinamit itu Meledak Lagi..

oleh -37 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pengamat Sepakbola

Indra Sjafri, pelatih Garuda Muda dengan banyak catatan juara itu pernah melontarkan sebuah adigium menarik. “Semangat Menolak Menyerah”. Kalimat ini tercetus begitu saja untuk menggambarkan bagaimana sang pelatih harus berkeliling dari kampung ke kampung nyaris ke seluruh pelosok negeri untuk mendapatkan sebelas pemain terbaik. Banyak tantangan dan semuanya di jalani dengan semangat menolak menyerah itu. Hasilnya sungguh dahsyat. Ilham Udin Armaiyn dkk sukses juara AFF U-19. Setahun setelah itu, Garuda Muda sukses membungkam Korea Selatan dalam penyisihan Piala Asia. Skuad yang sama juga dibawa Indra menjuarai AFF U-22. Belakangan, “Semangat Menolak Menyerah” jadi slogan pembinaan pemain usia muda. Bergema dimana-mana.

Semangat menolak menyerah dalam level yang lebih tinggi dipertontonkan Denmark dinihari tadi. Setelah melalui dua pertandingan awal di fase grup, Denmark seperti terkungkung “kesialan”. Di partai pertama, bermain di hadapan ribuan fans, Denmark kalah secara dramatis dari tim pendatang baru, Finlandia. Bermula saat bintang mereka, Christian Eriksen terkapar tak sadar diri. Seisi stadion menangis. Tak ada lagi batas persaingan antara pemain dan suporter kedua tim. Doa dan harapan diletupkan bersamaan. Nyawa Eriksen selamat oleh “Tangan Tuhan” Simon Kjaer, sang kapten yang heroik.

Tertunda lebih dari satu jam, pertandingan di stadion Karpen kota Kopenhagen itu akhirnya dilanjutkan. Ada permintaan dari Eriksen agar teman-temannya tetap bermain meski dirinya masih terbaring di ruang darurat rumah sakit. Denmark kebobolan oleh gol Joel Pohjanpalo. Tak ada selebrasi. Pemain Denmark maupun Finlandia sama-sama merasa kehilangan Eriksen. Denmark punya peluang menyamakan ketertinggalan namun eksekusi penalti Emile Pierre Hojbjerg gagal berbuah gol. Denmark kalah meski sangat diunggulkan untuk menang.

Ketiadaan Eriksen tetap menyisakan kehilangan. Ada beban yang tak terurai. Simon Kjaer dkk gagal move on kala bersua Belgia. Di partai kedua grup B itu, Denmark kembali kalah. Posisi mereka di urutan paling buncit. Romelu Lukaku dkk jadi bos. Persaingan menyisakan Finlandia di peringkat kedua dengan selisih gol 0 (1 – 1). Russia yang mengalahkan Finlandia ada di peringkat ketiga dengan selisih gol negatif (1 – 3). Keduanya punya nilai tiga hasil sekali menang. Di partai pamungkas grup B, Belgia yang sudah pasti lolos bertemu Finlandia. Finlandia hanya butuh minimal seri untuk mendampingi Belgia sambil berharap Russia kalah atau bermain seri dengan Denmark. Ada opsi lolos sebagai peringkat tiga terbaik jika berhasil menahan seri Belgia. . Russia di peringkat ketiga bersua Denmark. Seri apalagi menang memastikan mereka melaju bersama Belgia ke babak perdelapanfinal Euro 2020.

Bagaimana peluang Denmark?. Nyaris impossible. Ada banyak syarat untuk lolos. Tak hanya harus mengalahkan Russia. Skuad asuhan Kasper Hjulmand ini wajib menang besar agar selisih gol mereka yang negatif (memasukan satu gol dan kemasukan tiga gol) bisa berbalik positif. Di ujung yang lain, mereka juga kudu berharap Finlandia kalah dari Belgia dengan banyak gol. Denmark butuh dongeng dari HC Andersen – penulis cerita dongeng anak-anak yang terkenal itu.

Baca Juga  Belanda Jadi Favorit, Belgia Melaju

Selasa dinihari, sepak mula terjadi bersamaan. Di Karpen Stadium, Denmark menghadapi Russia. Ribuan kilometer terpisah, di atas rumput Krestovsky Stadium di kota Petersburg Russia, Belgia menjamu Finlandia. Saya membayangkan suasana kamar ganti Denmark. Kasper Hjulmand, Head Choach berusia 48 tahun berdiri di tengah lingkaran. Pelatih yang nyaris tak punya nama di Eropa itu – hanya melatih tim lokal dan pernah sekali merantau ke Jerman melatih FC Mainz – memberi instruksi. Russia bukan lawan ringan. Tapi harga diri dan reputasi negara harus dikedepankan. Tak boleh mengecewakan ribuan suporter yang setia mendukung. Tak boleh membuat Eriksen menangis sendirian. Intinya : semangat menolak menyerah!!.

Babak pertama berlangsung sengit. Keduanya saling mengancam. Gawang Denmark beberapa kali selamat berkat aksi brilyant Kasper Schmeichel. Menit ke 39, sayap muda Sampdoria, Mikkel Damsgaard bikin gol. Babak pertama di Kopenhagen berakhir untuk keunggulan tuan rumah. Di Petersburg, strategi parkir bus Finlandia membuat Belgia kesulitan bikin gol. Di ruang ganti selama jeda itu, saya membayangkan lagi sang kapten Simon Kjaer memberi semangat. Kasper menimpali bahwa dalam sepakbola, segalanya baru berakhir setelah peluit panjang ditiupkan wasit. Tak ada yang mustahil jika fokus dan terus berjuang. Ia memberi contoh timnya, Leicester City yang menjungkalkan Chelsea di final Piala FA. Semangat menolak menyerah. Again.

Denmark menapaki rumput dengan tekad membara. Sejak peluit babak kedua dimulakan, mereka bermain kesetanan. Menit ke 59, penyerang RB Leipzig, Yusuf Poulsen bikin gol kedua untuk Denmark. Russia juga terus berjuang. Mereka bisa memperkecil ketinggalan pada menit 70 lewat gol penalti Artem Dzyuba. Ketegangan membungkus Karpen Stadium. Hingga menit ke 75, laga Belgia vs Finlandia masih imbang tanpa gol. Jika hasil ini bertahan hingga kedua laga usai, Denmark akan tersingkir karena selisih golnya masih negatif. Lebih banyak kemasukan daripada membuat gol ke gawang lawan.

Di menit ke 79, dua kejadian yang sama terjadi di tempat berbeda. Di Kopenhagen, gol dari bek tengah Chelsea, Andres Christensen menjauhkan Denmark dari kejaran Beruang Merah. Denmark 3 vs Russia 1. Di Petersburg, gol bunuh diri kiper Finlandia, Lukas Hradecky membuat mereka ketinggalan dari Belgia. Hasil ini membuat Denmark berpeluang lolos. Tapi laga belum usai. Finandia terus berjuang mencari gol balasan. Namun Belgia bukan lawan yang biasa-biasa saja. Menit ke 81, bintang Inter Milan, Romelu Lukaku membuat gol kedua untuk Belgia. Finlandia terkunci sementara di peringkat tiga.

Delapan menit jelang peluit akhir di Karpen Stadium, Denmark – tim berjuluk dinamit – benar-benar meledak. Bek sayap Atalanta, Joakim Maehle membuat gol ke empat. Ketika wasit memberi tanda laga berakhir, pemain dan ofisial Denmark berkumpul di tengah lapangan. Melingkar dan saling berpegangan. Saat, peluit panjang di Peterburg memberi penanda Finlandia kalah, histeria berhamburan memenuhi malam di Kopenhagen. Saya membayangkan Eriksen akan melompat meski ditegur para dokter. Di Karpen Stadium, dongeng itu, semangat menolak menyerah itu menemui “tuannya”. Tawa dan tangis kebahagiaan berwujud pesta kemenangan. Russia dan Finlandia terduduk lesu.

Baca Juga  Kalamata

Dinihari tadi di Karpen Stadium seperti deja’vu. Mengulang dongeng ledakan dinamit Denmark yang terjadi dua puluh sembilan tahun lalu. Saya beruntung menyaksikan dua keajaiban ini. Momen yang bikin sepakbola selalu digemari oleh milyaran orang di bumi.

26 Juni 1992 dinihari. Stadion Ulevi di pusat kota Gothenburg Swedia, penuh sesak oleh pendukung Jerman dan Denmark. Final piala Eropa edisi ke 9. Jerman melangkah ke partai puncak usai mengalahkan tuan rumah Swedia. Materi skuad asuhan Berti Vogts ini terbilang sangat mewah. Hampir semua pemain yang membawa Jerman jadi juara Piala Dunia untuk ketiga kalinya di Italia dua tahun sebelumnya masih dipercaya Vogts. Penjaga gawang masih milik Bodo Ilgner. Lini pertahanan masih dijaga Guido Buchwald, Jurgen Kohler, Andy Brehme, Stefan Reuter dan Thomas Helmer. Di lini tengah, Stefan Effenberg jadi double pivot bersama Matthias Sammer. Gelandang mungil Thomas Haessler bermain di belakang dua bomber maut, Jurgen Klinsmann dan Karl Heinz Riedle. Jerman sangat diunggulkan jadi juara.

Di kubu Denmark, hanya ada beberapa pemain yang punya nama. Penjaga gawang Manchester United, Peter Schmeichel termasuk salah satu yang baru dikenal publik sepakbola dunia. Selain itu ada nama gelandang elegan Brian Laudrup dan penyerang Henrik Larsen. Selebihnya adalah pemain yang tak dikenal publik sepakbola. Perjalanan Denmark juga terbilang “beruntung”. Skuad asuhan Richard Moller Nielsen – pelatih domestik dengan reputasi lokal – ini diundang UEFA sepuluh hari sebelum putaran final Piala Eropa dimulai untuk menggantikan Yugoslavia yang terlibat perang Balkan.

Di fase grup, Denmark berada di grup neraka. Ada tuan rumah Swedia, Inggris dan Perancis. Langkah mereka tak mulus. Di partai perdana, mereka hanya bermain imbang tanpa gol melawan Gary Lineker dkk. Jalan terjal makin menghadang kala Denmark kalah di pertandingan kedua dari Thomas Brolin dkk. Di pertandingan ketiga, Denmark harus menang atas Perancis jika bermimpi lolos ke semi final. Sesuatu yang impossible. Skuad Ayam Jantan asuhan Michael Platini punya banyak bintang. Ada Basile Boli yang tenar bersama Marsaille berduet dengan salah satu bek tengah terbaik milik Perancis, Laurent Blanc. Di lini tengah, kerjasama Eric Cantona dan Didier Deschamps akan menopang ujung tombak licin, Jean Piere Papin. Tapi dinamit mulai meledak. Perancis dikalahkan lewat gol Henrik Larsen dan Lars Elstrup. Denmark lolos ke semifinal bersama Swedia dari grup A.

Di semifinal, lawan berat menanti. Belanda adalah juara grup B. Juara bertahan Piala Eropa ini masih membawa para pahlawan pemenang piala Eropa empat tahun sebelumnya di Jerman. Trio AC Milan ; Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten masih jadi pilihan bersama penjaga gawang Hans Van Breukelen. Berkombinasi dengan junior seperti Dennis Bergkamp, Ronald Koeman, Frank De Noer, Wim Jonk dan Aron Winter. Dinamit Denmark lagi-lagi meledak di Swedia. Dua gol Henrik Larsen dibalas dua gol dari Bergkamp dan Rijkaard. Asa ke final ditentukan lewat drama adu penalti. Semua penendang sukses kecuali Marco Van Basten yang tendangannya ditepis Peter Schmeichel. Denmark ke final.

Baca Juga  Donci For Mama

Ketika sepak mula partai final dimulai, Jerman tampil mendominasi. Keasyikan menyerang, gawang Ilgner dibobol Jhon Jensen di menit ke 18. Denmark unggul. Jerman tetap meyakini akan juara. Waktu pertandingan masih lama. Der Panzer tetap dominan. Satu jam berlalu, tak ada gol balasan yang tercipta. Semua pemain Denmark bermain dengan determinasi tinggi. Kehilangan bola berarti harus segera direbut. Mereka bertahan secara kolektif. Serangan balik cepat jadi senjata. Tak ada celah bagi Jerman. Di menit ke 78, serangan balik Denmark berbuah gol kedua. Adalah Kim Vilfort yang menghukum Jerman. Laju Der Panzer dihentikan dinamit Denmark.

Jerman kalah lagi di final. Kekalahan yang saya saksikan langsung untuk kesekian kalinya. Kalah dari Italia di final Piala Dunia Espana 1982 dan dari Argentina di Final Piala Dunia Meksiko 1986 serta (belakangan) dari Brazil di final Piala Dunia Jepang Korea 2002 “mungkin” bisa diterima dengan kepala tegak. Tapi rasa sakit setelah kalah dari Denmark meninggalkan kemuraman. Jerman kalah karena terlalu percaya diri. Tak ada respek kepada lawan.

Jerman kalah dari sebuah tim pengganti yang hadir tanpa kesombongan. Denmark 1992 adalah sekumpulan pemain yang tak bernilai tinggi di pasar sepakbola Eropa. Sebagian besar adalah pemain dari kompetisi domestik yang jauh dari sorotan publisitas. Hanya pertalian semangat dan nasionalisme yang menguatkan mereka. Ada harga diri yang dipertaruhkan. Mereka berjuang atas nama cinta. Dedikasi tanpa batas. Karena itu, mereka amat sangat berharga dan dihormati di negaranya. Pahlawan yang terus dielukan.

Semangat menolak menyerah dua puluh sembilan tahun lalu itu seperti datang lagi menemui “tuannya’. Langkah Simon Kjaer dkk di Euro kali ini belum usai. Setelah “meledak” dinihari tadi, tak ada yang bisa memastikan apakah dinamit itu akan bisu atau meledak lagi besok lusa. Yang pasti, sukses Denmark membuat peta menuju perdelapanfinal berubah total. Sebagai runner up grup B, Denmark akan bertemu runner up grup A, Wales. Swiss di grup A jadi tim pertama yang lolos dengan status peringkat tiga terbaik. Tiga tim tersisa untuk peringkat tiga terbaik masih menunggu laga-laga terakhir di grup D, E dan F. Segala sesuatu masih berpotensi terjadi. Entah itu kejutan penuh kegembiraan atau cerita kepiluan. Sepakbola memang penuh enigma.

Saya teringat kata-kata Peter Schmeichel usai mengangkat Piala Eropa ; “Kami masih tak percaya atas apa yang kami lakukan”. Kalimat yang sama bisa jadi berkelindan di kepala sang anak, Kasper Schmeichel usai laga penuh heroisme dinihari tadi. (*)