“Penundaan dan tindakan setengah hati hanya dapat menyebabkan kehancuran kita yang paling akhir dan menyeluruh,” bunyi pamflet para penulis propaganda memperingatkan para pembacanya.
Pembantaian itu diduga meningkat di seluruh kepulauan Indonesia dalam beberapa minggu setelah penerbitan buletin, di mana The Guardian bersikeras tidak ada keraguan bahwa diplomat Inggris menyadari apa yang terjadi.
“Mata-mata Inggris di wilayah tersebut memiliki segala cara untuk menyadap komunikasi pemerintah Indonesia dan memantau pergerakan militernya,” tulis The Guardian.
Salah satu buletin, yang dirilis selama tindakan keras terhadap komunis, memuji “dinas perang dan polisi” karena melakukan pekerjaan yang sangat baik.
Para propagandis Inggris membandingkan PKI dengan Adolf Hitler dan Jenghis Khan dalam pamflet, dan bersikeras bahwa pekerjaan yang dimulai oleh tentara harus dilanjutkan dan diintensifkan.
Selain itu, sebuah surat dari Norman Reddaway, salah satu propagandis terkemuka yang bekerja di Singapura, kepada duta besar Inggris di Jakarta mengungkapkan strategi Inggris untuk menyembunyikan fakta bahwa pembantaian telah terjadi dengan dorongan para jenderal.
Dia menulis bahwa pendekatan seperti itu seharusnya diambil dengan harapan bahwa para jenderal akan melakukannya lebih baik daripada “geng lama”.




