Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Mengapa ada penjilat? Karena ada yang dijilat. Yang dijilati seneng. Penjilatnya bathi alias untung. Selalu ada transaksi dalam hal perjilatan. Yang dijilat terkili-kili lobang pantatnya. Dia bisa merem melek menikmati.
Namun dalam hal jilat menjilat, transaksi itu berlangsung asimetris. Penjilat dan terjilat tidak punya kekuasaan yang sama. Terjilat selalu adalah orang yang punya kuasa lebih besar. Penjilat adalah makhluk yang rela melakukan apa saja supaya selamat dan mungkin juga sedikit untung.
Ya semacam pelacuranlah. Tapi pelacuran oleh lonte jauh lebih terhormat daripada penjilat ini. Moral ground-nya berbeda. Dalam hal perjilatan kekuasaan, sama sekali tidak ada moral. Yang ada hanya total submission atau penyerahan segalanya. Transaksinya tidak bisa ditawar. Yang dijilat memiliki kekuasaan maksimum.
Transaksi dalam hal perlontean – lonte lanang mau pun wedok – itu lebih bermoral karena ada kekuatan yang relatif sama. Pembeli dan penjual. Dalam hal perjilatan transaksinya antara yang berkuasa dan yang rela menghinakan dirinya sehina-hinanya.









