Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
2014: Image Prabowo adalah seorang pemimpin tegas, gagah, megah (grandeur). Untuk menggambarkan imaji itu, dia memilih naik kuda. Hasil? Gagal. Ia kalah.
2019: Ia mencoba cara baru. Ia berusaha tampil lebih humanis. Dimana-mana, ia tampil dengan Bobby, kucingnya. Apa yang lebih memanusiakan manusia ketimbang kucing?
Toh, ada yang mengejeknya. Katanya, Sandiaga Uno (cawapresnya saat itu) makan ikan, eh ikannya di colong Bobby.
Hasilnya, Prabowo kalah lagi.
(2020: Bobby menang pemilihan walikota Medan, eh tapi itu Bobby yang lain, ding. Itu Bobby, menantunya Jokowi)
2024: Dua kali kalah dengan memakai maskot binatang, Prabowo mengubah strategi. Mengapa tidak memakai diri sendiri? Prabowo (atau konsultannya?) kemudian mulai melihat apa yang populer di kalangan pemilih Indonesia namun bisa dilakukan secara ‘natural,’ oleh dirinya.
Jadilah, ‘Gemoy’ itu. Dalam bahasa gaul, gemoy artinya menggemaskan. Ditemukanlah goyang atau joget-joget gaya Prabowo yang gemoy itu.
Sebagai orang yang lama mengamati dangdut, saya tidak melihat elemen-elemen goyang dangdut dalam joget Prabowo ini. Goyang dangdut itu umumnya tersihir oleh irama kendang, yang oleh seorang kawan saya yang antropolog dikatakan suaranya masuk ke perut dan mendorong orang untuk bergoyang.









