Gonone: Pulau Kurma dan Jejak Masa Silam

oleh -363 views

Oleh: Sayuti Melik S, Pemuda Desa Gonone

Di perbatasan antara laut Halmahera, tampak sebuah pulau kecil bernama Gonone, tempat di mana riak ombak menceritakan dongeng lama. Gonone, dengan pasir putih yang lembut dan air laut yang sejernih kristal, adalah surga yang tenang bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di pulaunya. Pulau ini adalah saksi bisu dari perjalanan waktu—dari kisah para pelaut Tobelo hingga kolonial Belanda yang menamai Gonone dengan sebutan Klein Geelmuiden atau Karel Dorman.

Sebuah pulau, yang oleh orang Binongko, dijuluki Pulau Bidadari. Sebuah nama yang tidak sekadar mitos, karena di tanah ini dipercaya pernah hidup putri-putri cantik dari Tobelo yang anggun seperti bidadari surga. Sementara itu, orang Bugis menyebutnya Pulau Mutiara, lantaran kekayaan lautnya yang luar biasa. Dari lobster hingga mutiara, dari cumi-cumi hingga terumbu karang, semuanya memberi kehidupan bagi masyarakat pesisir. Pada peta kolonial Belanda, Gonone menjadi salah satu pulau kecil yang mencuri perhatian, tak hanya karena letaknya yang strategis tetapi juga potensinya sebagai pusat perikanan.

Baca Juga  Sidang Eks Brimob Maut di PN Ambon, Aktivis Kecam Sikap DPRD Tual

Kisah asal usul nama Gonone berakar dari bahasa Tobelo. Nia Ino Ho Gogere, demikian mereka menyebutnya. Artinya sederhana: “Mari kita duduk, mari kita tinggal.” Sejak 1928, masyarakat Tobelo mulai menetap di sini, meski sebelumnya mereka bermukim di sebuah kampung tua yang ditemukan oleh Kapita Gurida. Namun, wabah penyakit memaksa mereka meninggalkan kampung tersebut, menyebar ke berbagai tempat seperti Halmahera, Obi, Bacan, dan Raja Ampat. Sebagian kecil tetap bertahan, membangun kehidupan baru di gugusan pulau yang dikenal dengan sebutan Gonone.

No More Posts Available.

No more pages to load.