Cerpen Karya: Dino Umahuk
Musim semi selalu datang dengan cara yang lembut di Amsterdam. Pohon-pohon di sepanjang kanal mulai menghijau, bunga-bunga tulip bermekaran, dan matahari yang selama berbulan-bulan bersembunyi akhirnya berani menampakkan diri. Orang-orang memenuhi taman kota, duduk di bangku-bangku kayu yang menghadap air, seolah musim dingin tak pernah benar-benar ada.
Bagi Gilbert, musim semi selalu menjadi musim yang paling indah.
Namun musim semi tahun itu justru terasa seperti ucapan selamat tinggal.
Di sudut apartemen mungilnya di Amsterdam-Noord, dua koper telah tertutup rapat. Paspor, tiket, dan ijazah magister dari universitas tempatnya belajar selama dua tahun tersimpan rapi di dalam tas kulit berwarna cokelat. Esok pagi ia akan kembali ke Ambon.
Ia datang ke Belanda sebagai mahasiswa.
Ia pulang sebagai seorang magister.
Tetapi ada sesuatu yang harus ia tinggalkan.
Menjelang malam Gilbert berjalan menuju taman kecil di tepi Buiksloterkanaal.
Langkahnya begitu hafal jalan itu. Setiap jembatan, setiap lampu jalan, setiap aroma kopi dari kafe-kafe kecil seolah telah menjadi bagian dari hidupnya. Di ujung taman, sebuah bangku kayu masih berdiri menghadap kanal. Warnanya semakin pucat, digerus hujan dan pergantian musim.










