Ketidakpastian global membuat Segitiga Bermuda ekonomi Indonesia – perlambatan Cina, krisis Hormuz, dan tekanan fiskal domestik – seolah menjadi medan uji. Jika ketiga faktor ini bergerak bersamaan, mereka dapat menekan pemerintah dari semua sisi. Namun ada peluang strategis: perlambatan Cina bisa mendorong diversifikasi pasar ekspor, dan investor global yang mencari alternatif manufaktur di Asia Tenggara memberi kesempatan bagi Indonesia untuk menegaskan posisi kompetitif.
Tetapi sejarah memberikan peringatan. Bayangan Mei 1998 masih menghantui. Foto Suharto menandatangani Letter of Intent IMF menjadi simbol bagaimana tekanan eksternal bisa meruntuhkan legitimasi. Foto Prabowo-Trump menunjukkan bahwa bentuk tekanan kini lebih halus, tetapi dampaknya tetap nyata: kedaulatan ekonomi Indonesia tetap diuji oleh kepentingan global.
Badai ekonomi bukan sekadar soal angka makro. Ia adalah cerita tentang rakyat, legitimasi politik, dan kemampuan bangsa untuk berdiri tegak di tengah dunia yang terus berubah. Indonesia memiliki kesempatan menulis bab baru: bukan sebagai bangsa yang kembali bergantung, tetapi sebagai negara yang mampu menghadapi badai dengan strategi, keberanian, dan kemandirian.











