“Gen Z dan Milenial tumbuh di dunia digital di mana ekspresi diri – baik itu kegembiraan, kemarahan, atau kesedihan – sering kali dibagikan secara online, dan membicarakan tantangan kesehatan mental secara online tidak lagi mendapat stigma seperti dulu,” ujar Stephanie, seperti dikutip dari Huffington Post.
Oleh karenanya, mereka lebih terbiasa berbicara tentang emosi dan melihat media sosial sebagai platform yang sah untuk berbagi pengalaman pribadi, termasuk kesedihan. Selain itu, banyak dari mereka mengalami pandemi dan dampaknya terhadap kesehatan mental, yang semakin mengaburkan batas antara hubungan online dan offline.
Bagi Gen Z, teman-teman online bisa sama validnya dengan teman-teman di dunia nyata, sehingga berbagi kesedihan secara digital terasa lebih natural.
Selena Gomez menangis di media sosial. Foto: Instagram
Dampak dari Mengumbar Kesedihan di Media Sosial
“Menangis itu sehat, tetapi membagikan momen tersebut ke media sosial bisa memiliki konsekuensi yang tidak terduga,” kata Rana Bull, seorang konselor yang banyak bekerja dengan Gen Z.
Dia menambahkan, mengunggah diri sendiri menangis memiliki dua sisi mata uang. Jika mendapat respons negatif, hal itu bisa memperburuk kondisi emosional seseorang.
Sebaliknya, ketika mendapat respons positif, ada risiko seseorang menjadi terlalu bergantung pada validasi eksternal, alih-alih benar-benar menyembuhkan luka emosionalnya.










