Rana juga menekankan pentingnya memahami motivasi di balik tindakan ini. Jika seseorang merasa menangis di depan kamera adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan rasa sakitnya, itu bisa menjadi tanda adanya masalah emosional yang lebih dalam dan perlu ditangani secara lebih personal.
Berkaca dari kasus Selena Gomez, perlu dilihat sudut pandang dari kedua belah pihak, yakni yang yang membagikan emosi secara publik dan mereka yang menyimaknya.
Sebelum memberikan penilaian atau komentar negatif, Rana menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri: ‘Mengapa saya merasa tidak nyaman melihat orang lain menunjukkan emosinya? Apa yang membuat saya ingin menghakimi?’
“Salah satu aspek indah dan kreatif dari media sosial adalah keterbukaannya-tidak ada aturan tegas mengenai apa yang ‘benar’ atau ‘salah’ untuk diunggah,” katanya.
Pada akhirnya, batas antara ekspresi diri yang sehat dan pencarian atensi bisa sangat tipis. Namun, di tengah norma sosial yang terus berkembang, yang bisa kita lakukan adalah memberikan ruang bagi orang lain untuk mengekspresikan diri, sembari tetap mengedepankan empati dan batasan yang sehat dalam dunia digital.
sumber: wolipop










