Nabi SAW juga menuturkan demikian perihal syirik. Rasul SAW bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan apa kabair (dosa besar) yang paling besar?” Beliau mengulang tiga kali. Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah bersabda, “Yaitu menyekutukan Allah SWT dan durhaka kepada kedua orang tua.” Saat itu beliau bersandar lalu duduk dan melanjutkan, “Juga kesaksian palsu, kesaksian palsu.” Begitu Rasulullah mengulang-ulang sampai-sampai kami mengatakan, “Andai beliau menghentikannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Allah Mengampuni Orang Syirik yang Bertobat
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab At-Taubah wal Inabah yang diterjemahkan Abdul Hayyie al-Kattani mengatakan surah An-Nisa’ ayat 48 yang menyebut syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni berlaku bagi orang-orang yang tidak bertobat. Dalilnya, kata Ibnul Qayyim, Allah SWT membedakan antara syirik dan selain syirik dalam hal ampunan (maghfirah). Dalam Islam, dosa syirik diampuni dengan bertobat.
“Sebab, kalau tidak demikian, tentu keislaman orang kafir selamanya tidak sah. Juga, Allah mengkhususkan ampunan atas dosa selain syirik dengan ‘siapa yang dikehendaki-Nya’ padahal ampunan dosa bagi orang-orang yang bertobat bersifat umum, tanpa pengkhususan, sementara di sini Allah mengkhususkan dan mengikat (khusus bagi orang yang dikehendaki-Nya). Ini menunjukkan bahwa yang dijelaskan itu adalah hukum selain orang yang bertobat,” jelasnya.









