Karena tempat-tempat sipil itu dijadikan pos militer, tidak heran dia kemudian menjadi ‘legitimate target’ dalam kontak senjata.
Paruh kedua laporan ini mencoba memberi jawaban tentang mengapa konflik meningkat itu. Laporan ini menelusuri pembuatan jalan dan penempatan pos-pos militer. Ternyata, dalam peta jelas terlihat bahwa jalan dan pos-pos militer itu mendekat pada satu hal: Kawasan pertambangan.
Dalam peta jelas ekali terlihat perusahan-perusahan yang bermain disana. Juga siapa-siapa yang terkait dalam kepemilikan saham-saham perusahan tersebut.
Anda mungkin sudah tahu pertikaian Haris Ashar dan Fathia Maulidiyanti dengan Menteri Luhut Binsar Panjaitan? Mereka berdua diadukan ke polisi karena dianggap mencemarkan nama baik Luhut yang dituduh memiliki saham di perusahan-perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Pegunungan Tengah itu.
Namun dari penelusuran pembuatan jalan dan pos-pos militer, terlihat bahwa pengamanan itu tidak berhenti di empat perusahan yang ada Intan Jaya. Ternyata ia mengarah pada satu tempat: Blok Wabu, kawasan pertambangan yang dulu dimiliki oleh Freeport. Blok ini kabarnya mengandung cadangan emas senilai kira-kira 250 trilyun rupiah.
Siapa yang tidak ngiler dengan jumlah itu?











