Karena itu, hilirisasi enau tidak boleh dibangun dengan logika tunggal: nira masuk pabrik, lalu menjadi sopi.
Kita membutuhkan diversifikasi hilirisasi.
Dari Nira Menjadi Gula Semut
Salah satu alternatif yang patut mendapat perhatian serius adalah mengembangkan nira enau menjadi gula semut.
Gula semut memiliki karakter pasar yang berbeda dengan sopi. Ia dapat dikembangkan sebagai produk pangan, bahan baku industri makanan dan minuman, maupun produk bernilai tambah untuk pasar domestik dan ekspor.
Perubahan pola konsumsi di sejumlah pasar internasional juga membuka peluang bagi produk pemanis berbasis bahan alami. Namun peluang tersebut tentu tidak boleh hanya dilihat sebagai jargon pasar ekspor. Produk Maluku harus benar-benar memenuhi standar mutu, keamanan pangan, kontinuitas pasokan, sertifikasi dan persyaratan negara tujuan.
Artinya, peluang tersebut membutuhkan kerja serius dari hulu sampai hilir.
Maluku memiliki modal awal yang penting: sumber bahan baku dan masyarakat yang telah memiliki pengetahuan tradisional dalam mengolah nira.
Yang belum memadai adalah teknologi, standardisasi, kelembagaan, pembiayaan dan kepastian pasar.
Di sinilah pemerintah daerah seharusnya masuk.
Pemerintah tidak harus menjadi pelaku bisnis. Peran pemerintah adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan petani menjadi bagian utama dari rantai nilai.











