Sejak 1980-an, resep beracun IMF dan Bank Dunia itu merasuk begitu luas ke seluruh dunia berkat kedigdayaan otot politik Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan dan Inggris di bawah Margaret Thatcher. “Reaganomics” dan “Thatcherism” menganjurkan pengurangan pajak orang kaya, privatisasi, penyunatan anggaran publik, serta deregulasi. Inilah kebijakan yang oleh para pengecamnya disebut kebijakan “neoliberal”.
Ekonom klasik John Kenneth Galbraith mengingatkan bahwa “teori kuda dan burung gereja” yang diterapkan pada 1890-an terbukti gagal memenuhi janjinya di Amerika Serikat sendiri. Teori itu bahkan memicu depresi ekonomi besar. Tapi, Reagan tidak belajar.
Tiga puluh tahun kemudian Presiden Barack Obama menuai getahnya. “Melebarnya jurang pendapatan merupakan tantangan terbesar ekonomi masa kini,” kata Obama. Tak hanya di Amerika Serikat, ketimpangan memburuk secara global. Saat ini harta 85 orang terkaya dunia setara dengan harta 3,5 miliar penghuni bumi termiskin dikumpulkan menjadi satu.
Problem ketimpangan juga menjadi perbincangan makin hangat secara internasional setelah ekonom Prancis Thomas Piketty menerbitkan buku terkenal “Capital in the Twenty-First Century” pada 2013.
Studi mutakhir ekonom IMF dan buku Piketty itu relevan untuk Indonesia. Di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono negeri kita menyaksikan liberalisasi ekonomi masif. Hasilnya sudah dituai: memburuknya ketimpangan ekonomi dan pendapatan, yang terparah sepanjang sejarah republik ini.




