Karbala Tak Pernah Selesai

oleh -1,569 views

Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis dan Sastrawan Nasional

Tragedi Battle of Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah (680 M) adalah salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah Islam. Di padang tandus Karbala, Imam Husein bin Ali—cucu Rasulullah SAW—bersama keluarga dan para pengikutnya berdiri menghadapi kekuatan militer besar yang dikirim oleh penguasa saat itu, Yazid bin Muawiyah.

Mereka dikepung berhari-hari, diputus dari akses air di tengah gurun yang membakar, lalu satu per satu dibantai. Anak-anak, keluarga, dan sahabat dekat ikut menjadi korban. Peristiwa itu bukan sekadar kekalahan militer kecil di padang pasir; ia adalah tragedi kemanusiaan yang mengguncang nurani sejarah.

Namun Karbala bukan hanya kisah kesedihan. Ia adalah titik balik moral dalam sejarah Islam. Di sana, Imam Husein bin Ali menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu berdiri di pihak kekuasaan, dan keadilan tidak selalu dimenangkan oleh pedang serta pasukan.

Imam Husein memahami betul bahwa perjalanan menuju Karbala hampir pasti berakhir dengan kematian. Ia datang bukan untuk merebut takhta atau memperluas wilayah, melainkan untuk mempertahankan martabat moral umat. Ketika ia menolak berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, ia sedang menyampaikan pesan yang melampaui zamannya: bahwa manusia tidak boleh menyerahkan nurani kepada kekuasaan yang zalim.

No More Posts Available.

No more pages to load.