Kebenaran Media

oleh -5 Dilihat

Karena dalam sejarah Indonesia, di massa konvensional, para aktivis memiliki jejak penting dalam menyelesaikan masalah. Gerakan itu mulai dari menulis di media cetak, membuat propaganda lewat selebaran, unjuk rasa hingga advokasi dan pendampingan masyarakat.

Gerakan-gerakan ini harus juga memiliki tempat di era digital. Sebab, sebagian besar masyarakat telah terhubung dengan internet, dan menghabiskan waktu banyak berinteraksi di media sosial ketimbang dunia nyata. Bahkan, saat lagi sambil duduk bersama, mereka tak jarang lebih menengok gadget dibandingkan berinteraksi dengan teman di sekitar.

Hanya saja, tak banyak aktivis yang memiliki kemampuan—sadar dan memiliki keterampilan memberdayakan media baru. Terutama mahasiswa yang kerap bernyanyi dengan identitas agen perubahan, kontrol sosial—hanya menjadi simbol yang mati—tak bergerak menemukan maknanya. Aktivis kini hilang daya pikirnya, yang selama ini menjadi identitasnya.

Baca Juga  PLN Kawal Kelistrikan JKPI Ternate, Benteng Oranje hingga Benteng Kalamata Diperkuat

Aktivis sebagaimana manusia pada umumnya di era digital ini, mulai mengalami pergeseran daya pikir. Meminjam diktum Rene Descartes: Cogito ergo sum—aku berpikir maka aku ada, tak lagi menjadi syarat eksistensi manusia. Eksistensi itu bagi Budi Hardiman dalam Aku Klik maka Aku Ada (2021), telah berwujud pada citra yang nampak di media sosial dalam bentuk klik.

No More Posts Available.

No more pages to load.