Presiden Soekarno baru kembali ke Yogyakarta lagi pada hari Rabu tanggal 6 Juli 1949 jam 13:00 (‘Nieuwe Apeldoornsche courant’ (Apeldoorn) Kamis 07-07-1949). Sebagaimana sudah sama diketahui, bersama Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan St. Sjahrir, ia ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di Yogya ketika Belanda melancarkan “Operasi Kraai” (Operasi Gagak) yang menandai dimulainya agresi kedua mereka. Soekarno, St. Sjahrir dan H. Agus Salim dibawa ke Prapat (Sumatra Utara), sementara Hatta diasingkan ke Pulau Bangka (Manumbing).
Praktis, sejak 19 Desember 1948 sampai 5 Juli 1949 Soekarno dan Bung Hatta berada jauh dari Yogya dan tidak dapat berbuat banyak, apalagi memimpin serangan gerilya, karena mereka sedang berada dalam tawanan Belanda di Pulau Sumatra. Inilah sebentuk amnesia sejarah yang dengan dungu diperlihatkan secara telanjang dalam Kepres No.2/2022 itu.
Kemenangan TNI dan laskar-laskar rakyat dirayakan di Yogyakarta pada Selasa pagi 4 Oktober 1949. Dalam laporannya di bawah kolom “Legerdag in Djogja”, surat kabar ‘De Locomotief’ (Semarang) edisi Kamis 6 Oktober 1949 menuliskan:
Perayaan Hari Tentara di Yogyakarta pada Rabu pagi mencapai klimaksnya ketika satuan-satuan TNI yang dipimpin Letkol Soeharto menggelar pawai di depan para petinggi militer, antara lain Panglima TNI Presiden Sukarno, Pemimpin TNI Jenderal Soedirman, Letnan Jenderal Hamengku Buwono, para menteri dan banyak personel militer terkemuka.









