
Dalam kesempatan ini, saya “postingkan” beberapa guntingan koran berbahasa Belanda yang terbit pada bulan Maret 1949 dan bulan-bulan sesudahnya, sampai Presiden Soekarno kembali ke Yogya dari tempat beliau diasingkan oleh Belanda di Prapat/Bangka pada 5 Juli 1949.
Koran-koran berbahasa Belanda ini merujuk kepada kantor berita Aneta dan juga koran-koran vernakular berbahasa Indonesia yang terbit pada waktu itu, seperti Nasional, Kedaulatan Rakjat, Mataram, Soerja Tjandra, Pedoman, dan lain-lain. Banyak lagi guntingan koran yang memberitakan Serangan Umum 1 Maret ini 1949 ini, dan situasi selepas serangan itu, yang tidak mungkin saya postingkan semuanya di sini. Namun, secara umum situasi yang digambarkan oleh media kurang lebih sebagai berikut.
Tanggal 3 Maret, dua hari setelah serangan, beberapa media melaporkan apa yang mereka sebut sebagai “serangan kaum ekstrimis terhadap Djogja”.
“Pukul 6 pagi tanggal hari Senin 1 Maret 1949, kelompok ekstrimis yang sangat kuat di berbagai tempat di Yogya melancarkan serangan”, demikian laporan koran ‘Provinciale Drentsche en Asser courant’ (Assen) Kamis 03-03-1949, misalnya. Dikatakan bahwa menurut seorang koresponden khusus mereka dari Aneta Yogya yang mewawancarai Kolonel Van Langen, komandan tentara Belanda di Yogyakarta, para ‘ekstrimis’ ini , menurut sang Kolonel, memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang langgeng.










