Oleh: Dr. Suryadi, Pakar Filologi dan Ahli Pernaskahan Nusantara, Universitas Leiden Belanda
TAMPAKNYA di Tanah Air sedang heboh dan menjadi polemik di ruang publik soal SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 TERHADAP KEDUDUKAN BELANDA DI YOGYAKARTA (huruf besar dari penulis-red). Oleh sebab itu, kita belokkan napak tilas sejarah kita dari Kerajaan Sikka di Pulau Flores ke Yogyakarta pada masa yang kurang lebih sama: akhir 1940-an.
Polemik yang muncul konon dipicu Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahin 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara yang baru-baru ini dikeluarkan dimana nama SOEHARTO tidak tercantum; narasi dalam Kepres tersebut hanya menyebutkan bahwa ide serangan itu datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, diperintahkan oleh Jendral Sudirman, serta disetujui dan digerakkan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan didukung oleh TNI dan laskar-laskar rakyat lainnya (lihat video ini)
Lepas dari polemik yang sedang terjadi, sebenarnya cukup lucu juga bahwa apa yang terjadi baru terjadi 73 tahun lalu itu seolah merupakan peristiwa yang tidak ada datanya, diutak-atik semau gue, padahal tahun 1940-an adalah zaman yang sudah cukup modern dengan teknologi perekaman peristiwa yang sudah cukup canggih (kamera, film, mesin ketik, mesin cetak, dan lain-lain). Bagaimana ini bisa terjadi pada sebuah bangsa









