Sebuah Pintu yang Terbuka
Djabir Sjah pernah hidup di zaman ketika bentuk Indonesia belum selesai dirumuskan.
Ia memilih jalan sejarahnya sendiri.
Jalan itu kemudian kalah.
Tetapi kekalahan sebuah gagasan tidak selalu berarti kematiannya.
Kadang ia hanya menunggu zaman yang berbeda untuk kembali ditanyakan.
Hari ini, hampir delapan dekade setelah Negara Indonesia Timur berakhir, kata federasi kembali bergaung di tanah yang pernah menjadi salah satu panggung terpenting perdebatan itu.
Mungkin sejarah sedang mengulang dirinya.
Tetapi saya kira tidak.
Sejarah tidak pernah mengulang dirinya secara persis. Ia hanya mengembalikan pertanyaan yang belum selesai dijawab.
Dan pertanyaan Maluku Utara hari ini barangkali bukan:
“Apakah kami ingin keluar dari Indonesia?”
Pertanyaannya jauh lebih sederhana, tetapi justru karena itu lebih menggetarkan:
“Indonesia seperti apa yang ingin kalian bangun bersama kami?”
Jika pemerintah mampu menjawab pertanyaan itu dengan keadilan, mungkin federasi akan kembali menjadi kata dalam buku sejarah.
Tetapi jika pemerintah menjawabnya dengan kecurigaan, stigma, dan paranoia, jangan salahkan siapa pun jika kata itu terus tumbuh.
Sebab kata-kata tertentu memiliki umur yang panjang.
Ia bisa dibungkam di parlemen.











