Kisah Kuda Hitam: ‘Dewa-Dewa’ Yunani Meraih Juara Euro 2004

oleh -215 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Mimpi pasukan Otto Rehhagel bisa jadi biasa saja saat mereka terbang ke Portugal namun mungkin mereka sendiri kaget dengan apa yang terjadi di sana.

“Target awal adalah memenangkan sebiji pertandingan. Catatan itu akan dianggap sukses: menang hanya satu pertandingan.”

Jelang Euro 2004, mau dilihat dari sudut pandang manapun sepakbola Yunani adalah kurcaci Eropa, sebuah anggapan yang dilontarkan oleh anggota skuad Vasilis Tsiartas. Mereka gagal lolos ke putaran final Euro sejak 1980, di mana tim tersebut gagal mengoleksi kemenangan. 

Satu-satunya penampilan Yunani di Piala Dunia terjadi pada 1994, yang berakhir dengan tiga kekalahan, tanpa gol dan kebobolan sepuluh. 

Tak heran jika kita bisa mengatakan tidak seorangpun di dunia yang memprediksi tim polesan Otto Rehhagel akan menjadi penguasa Eropa sepuluh tahun kemudian.

Namun mereka benar-benar mengejutkan dunia dengan memukul tuan rumah 1-0 di partai puncak sekaligus menciptakan salah satu kejutan terbesar di dunia olahraga. 

Yunani telah mencatat sejarah sepakbola,” kata Rehhagel setelah mengangkat trofi Henri Delaunay. “Ini sensasi.”

“Kejutan itu selalu ada. Ingat bagaimana Korea Utara menghajar Italia di Piala Dunia Inggris 1966? Kali ini kejutannya adalah kami.”

Meskipun kalah di dua pertandingan kualifikasi pertama dari Spanyol dan Ukraina, Yunani berhasil menyapu bersih kemenangan di enam duel berikutnya untuk terbang ke Portugal dengan status juara grup. 

Catatan tersebut sebenarnya jadi isyarat awal jika Yunani bukan hanya sekadar tim pelengkap turnamen. Kemenangan 1-0 atas Spanyol yang memaksa LaRoja tampil di playoff menjadi bukti salah satu kualitas mereka. 

Baca Juga  Polda Maluku Utara Siagakan 5 SSK Brimob ke Papua
Otto Rehhagel 2014

Gagal mencetak banyak gol mungkin jadi satu-satunya pertanyaan bagi Yunani di sepanjang babak kualifikasi. Pasukan Rehhagel hanya mencetak delapan gol dari delapan pertandingan namun hanya kebobolan empat sebagai bukti kukuhnya benteng pertahanan. 

Dua bek tengah Yunani yaitu Traianos Dellas dan Michalis Kapsis berpostur tingi dengan kemampuan hebat di udara sehingga tim bisa bertahan dengan nyaman dan meredam crossing-crossing yang datang ke kotak penalti, sementara Antonios Nikopolidis adalah kiper yang bisa diandalkan. 

Di lini tengah tersusun trio gelandang dengan naluri bertahan yang dipimpin oleh kapten Theo Zagorakis untuk disempurnakan oleh Angelos Basinas dan Kostas Katsouranis – mereka jadi pelindung nomor satu empat bek sejajar sekaligus memberi pondasi kuat di sektor krusial ini. 

Melanjutkan ciri khas kekuatan fisik, Rehhagel menyimpan penyerang tunggal dengan postur raksasa pada diri Angelos Charisteas, sang ujung tombak punya kemampuan bagus berduel di udara dan ketika menguasai bola. 

Bek kiri Takis Fyssas menyebut Euro 2004 sebagai salah satu turnamen yang menghancurkan superstar dan lebih mengedepankan etos kerja dan kedisiplinan. 

“Kami hanya memiliki senjata yang tersedia,” ujar Fyssas yang sekarang menjabat direktur olahraga timnas Yuani. 

“Kami tidak punya Zidane atau Simao atau Cristiano Ronaldo, yang kami miliki hanyalah kerja keras, pengorbanan, determinasi dan semangat kekeluargaan. Apa yang kami lakukan sama dengan yang diperlihatkan Atletico Madrid sekarang.”

Baca Juga  Diduga Konsumsi Obat Kuat, La Muhammad Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Hotel

Lawan pertama Yunani di Euro 2004 adalah tim Portugal yang diperkuat oleh Ronaldo. 

Sang superstar sukses mencatatkan nama di papan skor namun itu hanya gol hiburan mengingat Yunani berhasil membungkam 50.000 fans tuan rumah di Porto dengan kemenangan 2-1. 

“Kemenangan itu melepas beban kami,” kata Tsiartas. “Kami merasa bebas.”

Gol penyama kedudukan Charisteas ke gawang Spanyol di laga kedua membuat Yunani hanya butuh kemenangan atas Rusia untuk lolos ke babak delapan besar. Sebagai catatan, ketika itu Rusia sama sekali belum pernah mencatat kemenangan. 

Sempat tertinggal 2-0 di awal pertandingan dan hanya sanggup membalas satu, pasukan Rehhagel tetap melaju ke fase gugur karena Portugal sukses menjungkalkan Spanyol. 

Lawan Yunani di perempat-final adalah Prancis yang punya sederet bintang seperti Zinedine Zidane, Thierry Henry, Patrick Vieira dan Robert Pires. Sang juara bertahan ketika itu jadi favorit. 

Akan tetapi melalui sebuah serangan balik di babak kedua, Charisteas berhasil menaklukkan Fabian Barthez. Gol semata wayang tersebut mengantarkan Yunani menantang Rep. Ceko di babak semi-final. 

Greece winning Euro 2004

Barisan serangan Rep. Ceko ketika itu sedang berada di masa keemasan seperti Pavel Nedved, Milan Baros dan Jan Koller. Lagi, Yunani jadi kuda hitam pada pertandingan ini. 

Yunani tampil perkasa selama 90 menit pertandingan sebelum Dellas mencetak satu-satunya gol perak di sejarah sepakbola internasional dengan menanduk tendangan sudut Tsiartas di babak tambahan. Yunani melangkahkan kaki ke partai final melawan Portugal. 

Baca Juga  Tidak Transparan Soap DD, Kades Koititi Didesak Mundur

Lebih dari 100.000 orang berkumpul di Omonia Squre di Athena, mereka siap berpesta sementara ribuan ekspatriat membuat jalanan kota Sydney, Australia macet. Tetapi apakah Portugal akan melakukan kesalahan yang sama seperti di laga pembuka? 

Ronaldo dan Luis Figo tidak henti menggempur dengan dukungan hebat dari 63.000 suporter yang memadati Estadio da Luz. Pada kondisi ini, satu tangan tuan rumah sudah memegang trofi. 

Tuan rumah mengumpulkan 17 tembakan, sepuluh tendangan sudut, 58 persen penguasaan bola namun mereka gagal menembus benteng solid Yunani. Dan dengan satu-satunya tendangan sudut yang mereka koleksi, melalui salah satu tembakan dari empat yang mereka kumpulkan, Charisteas berhasil mencetak gol kemenangan yang membuat seisi negara Yunani bergemuruh.

Yunani mememangkan tiga pertandingan di fase gugur dengan skor 1-0, melalui gol sundulan dengan skema dan konsep yang sama. Lima pahlawan Yunani masuk dalam susunan Tim Terbaik termasuk Zagorakis yang juga menyambar predikat Pemain Terbaik. 

Taktik Rehhagel memang jitu, dia memperlihatkan kerja keras, kesabaran, kedisiplinan dan penyelesaian yang baik bisa mengalahkan skill, bakat dan kemampuan. 

Inilah sebuah kesuksesan yang membuat nama Yunani abadi sebagai salah satu negara ‘kecil’ yang pernah menguasai sepakbola di Benua Biru. (red/rtm/goal)