Karena ancaman yang terus berlanjut, Rasulullah SAW memutuskan untuk menghadapi mereka secara langsung di Khaibar.
Sebelum berangkat menuju Khaibar, Allah SWT telah memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin melalui Surah Al-Fath mengenai kemenangan dan harta rampasan perang yang akan mereka peroleh.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Fath ayat 20, “Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath: 20)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa salah satu bentuk realisasi janji tersebut adalah kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khaibar beserta ghanimah yang mereka peroleh. Allah juga menegaskan bahwa rampasan perang itu diperuntukkan bagi para sahabat yang telah menunjukkan keikhlasan dan kesabaran dengan ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah.
Rasulullah Memimpin 1.400 Sahabat
Pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah, Rasulullah SAW memimpin sekitar 1.400 sahabat yang sebelumnya ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah menuju Khaibar. Meski mengetahui bahwa wilayah tersebut memiliki benteng-benteng kokoh dan persenjataan yang lengkap, para sahabat berangkat dengan penuh keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT.









