Hal ini membuat Umar bin Khattab merasa khawatir. Ia takut jika amanah kepemimpinan itu telah menggoda Umair sebagaimana banyak pemimpin lain diuji oleh kekuasaan.
Maka Umar memerintahkan sekretarisnya untuk menulis surat kepada Umair. Dalam surat itu, ia memintanya datang ke Madinah dengan membawa seluruh harta fai’ yang ia kelola.
Umair menerima surat tersebut dan segera mematuhi perintah Khalifah. Ia berangkat menuju Madinah hanya dengan berjalan kaki, membawa bekal seadanya dan tanpa kendaraan tunggangan.
Setibanya di Madinah, Umar terkejut melihat kondisi Umair yang kurus dan letih. Tubuhnya tampak lemah karena perjalanan jauh, namun wajahnya tetap memancarkan ketenangan iman.
Umar bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Umair?” Umair menjawab bahwa dirinya sehat dan tidak membawa apa pun selain bekal sederhana dan alat untuk beribadah.
Ketika Umar menanyakan harta fai’, Umair menjelaskan bahwa seluruhnya telah disalurkan kepada yang berhak. Ia menegaskan tidak menyimpan sedikit pun untuk dirinya sendiri.
Umar pun tersentuh dengan ketulusan dan keikhlasan Umair bin Sa’ad. Ia bahkan ingin memperpanjang masa jabatannya, namun Umair menolak karena lebih memilih hidup sederhana di kampungnya sambil tetap beribadah kepada Allah.










