Pertamina Dobo juga memastikan bahwa tidak ada proses bunker yang terjadi dari 24 hingga 26 Juli 2025.
Fakta menarik lainnya, pada 26 Juli, sejumlah wartawan dan saksi mata menyebut bahwa tangki LCT Crocodile Deandy justru penuh berisi solar saat dua orang jurnalis dan anggota TNI AD naik ke atas kapal untuk melakukan pemantaun.
Namun saat pengecekan oleh Polres Aru dan Lanal Aru pada 28 Juli, kapal itu dinyatakan kosong alias nihil muatan.
Aktivitas Radio dan AIS Tak Terpantau
Kepala Stasiun Radio Pantai Dobo Faisal Ubrusun, juga mengonfirmasi bahwa LCT Crocodile Deandy tidak melakukan panggilan apapun ke kanal 16 radio pantai yang biasanya digunakan untuk melapor saat melakukan aktivitas bunker atau olah gerak selama 24–26 Juli 2025.
Namun, pada 28 Juli, sistem AIS (Automatic Identification System) mencatat posisi kapal berada di belakang Wamar, dekat Pelabuhan Pertamina Dobo.
Praktisi Hukum Desak Transparansi APH
Menanggapi temuan-temuan ini, praktisi hukum Frets Mouw, SH mendesak aparat penegak hukum untuk bersikap transparan dalam menelusuri dugaan praktik ilegal ini.
“Kalau ini terbukti, ini kejahatan serius akibat kelalaian aparat. Bahkan bisa jadi ini praktik lama yang sudah biasa terjadi,” ujarnya.
Frets juga menyinggung potensi keterlibatan oknum aparat dan pentingnya perhatian dari Kapolri dan Panglima TNI, mengingat wilayah Kepulauan Aru adalah lintasan kapal-kapal perikanan GT besar yang rawan penyimpangan distribusi BBM.









