Lima Puisi Nuriman Bayan

oleh -23 views
Link Banner

Jari Kami

Kami tanam jari
di bawah matahari
hujan datang mandikan kami

jari kami tumbuh
memberi kami tubuh

jari kami tumbuh
menjadi wangi

kami tumbuh
menjadi harum.

Link Banner

2021

==========

Menepilah

Jika bulan-bulan
kemarin adalah kapal
di tengah badai
Ramadan adalah dermaga,

maka menepilah!
Bayarlah semua yang kau anggap utang!

Bukankah kau ingin rindu harus dibayar tuntas?

2021

=======

Di Har-hari yang Dahaga Mulia dan Bahagia

Ibu tak harus meminta pulang
kita juga tak harus bertanya
mengapa kita harus pulang

pulang tak sekadar kembali
tak sekadar menyambung tali
tak sekadar menginjakkan kaki

pulang adalah pergi
dari ketiadaan
kepada keniscayaan.

2021

========

Baca Juga  Heboh Soal Ucapan Tak Punya Darah Indonesia, "Belain" Tuntut Agnez Mo Minta Maaf

Maka Terimalah Aku

Bila hujan turun
ke bumi karena rindu
aku datang padamu karena cinta

bila ombak
ke pantai karena iba
aku datang padamu karena ibu

maka terimalah aku
sebagaimana bumi menerima hujan

maka terimalah aku
sebagaimana pantai menerima ombak

maka terimalah aku
sebagaimana ibu menerima kita

lalu tutup dan bukalah hatimu
sebab rindu tak akan berpaling
dari cintanya

maka terimalah aku, sio
aku cinta yang tak punya bapak
rindu yang tak punya ibu
kenangan yang kehilangan pinangan.

2021

========

Suatu Hari di Meja Panjang Buatan Ayah

Aku mendengar
ayah berbisik dalam tidurku
sambil mengelus pundakku

aku kumpul nyawaku lalu bangkit
kemudian beranjak ke kamar mandi.

Baca Juga  Unggul di Pilkada Halsel, Usman Sidik Turun Sapa Warga Obi

Di meja panjang buatan ayah
hidangan sudah lengkap ibu sajikan

aku kembali
dan duduk di bangku panjang

di luar
suara kasidah menendang-nendang

aku bahagia
kemudian tiba-tiba sedih

sebab sampai leper terakhir
aku tak melihat ayah di meja makan.

2021

=====