Menakjubkan! Kota Fir’aun Berumur 3 Ribu Tahun Ditemukan di Mesir, Seperti Apa Rupanya?

oleh -131 views
Link Banner

Porostimur.com | Mesir: Belum tuntas kemeriahan pawai mumi kerajaan kuno, kini Mesir kembali membuat penemuan mengejutkan.

Pasalnya, para arkeolog setempat dilaporkan telah berhasil mengungkap sebuah ‘kota emas yang hilang’. Kota ini bahkan digadang-gadang sudah berusia 3 ribu tahun dan dibangun sejak masa pemerintahan Amenhotep III.

Amenhotep III adalah salah satu firaun paling kuat di Mesir, yang memerintah dari tahun 1391-1353 SM.

Situs itu lantas diyakini para arkeolog sebagai kota kuno terbesar yang pernah ditemukan di Mesir. Penemuan ini juga dikatakan menjadi salah satu yang terbesar sejak penggalian makam Tutankhamun, firaun dari Dinasti Ke-18 Mesir.

Diwartakan BBC hingga The Guardian, penemuan luar biasa itu mulai diumumkan oleh ahli Mesir ternama, Zahi Hawass dan tim pada Kamis (8/4) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Hawass menyebut situs itu sebagai ‘kota emas yang hilang’. Dijelaskan pula bahwa kota yang dikenal sebagai Aten itu telah ribuan tahun terkubur di bawah pasir.

Baca Juga  DPRD Kepulauan Sula Minta Pemkab Segera Tuntaskan Agenda Pilkades

“Misi Mesir di bawah Zahi Hawass menemukan kota yang hilang di bawah pasir. Kota ini berusia 3 ribu tahun, berasal dari masa pemerintahan Amenhotep III, dan terus digunakan oleh (Firaun) Tutankhamun dan Ay,” ungkap para arkeolog yang mendampingi Hawass.

Zahi Hawass Center For Egyptology

Penemuan kota ini sendiri bermula dari program penggalian yang diluncurkan mulai September 2020 lalu. Diketahui, selama program ini, ahli giat menelusuri wilayah antara kuil Ramses III dan Amenhotep III di Luxor, rumah dari Lembah Para Raja.

Target awal misi ini pun sebenarnya adalah untuk menemukan kuil kamar mayat Raja Tut, yang makamnya ditemukan di Lembah Para Raja Luxor pada tahun 1922.

Namun, seiring berjalannya waktu, ahli justru mulai menggali selama berminggu-minggu di seluruh bagian kota. Saat itulah, ahli akhirnya dibuat terkejut karena menemukan formasi batu-bata lumpur.

Setelah digali lebih lanjut, barulah mereka menyadari bahwa formasi tak biasa itu ternyata adalah Kota Aten yang sudah ribuan tahun hilang.

Baca Juga  Sekarang Gaji Rp 5 Juta Kena Pajak 5 Persen

“Penggalian dimulai pada September 2020 dan dalam beberapa minggu, tim sangat terkejut, formasi batu bata lumpur mulai muncul ke segala arah,” kata Hawass dalam pernyataannya.

Zahi Hawass Center For Egyptology

Lalu seperti apa bentuk kota emas 3 ribu tahun itu?

Saat ditemukan, Hawass menjelaskan bahwa kota dalam kondisi terawat baik dengan dinding yang hampir lengkap. Digambarkan pula bagaimana di balik dinding itu, tersusun kamar-kamar yang dipenuhi dengan peralatan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, dijelaskan juga bagaimana saat ditemukan, ahli ikut mendapati beberapa bangunan. Di antaranya bagaimana di bagian selatan kota, berdiri sebuah toko roti lengkap dengan oven hingga penyimpanan tembikar.

Lalu di bagian utara terdiri dari distrik administrasi dan pemukiman, seperti diwartakan oleh ABC News.

“Jalan-jalan kota diapit oleh rumah-rumah, dengan beberapa dinding setinggi 3 meter,” kata Hawass.

“Itu adalah pemukiman administratif dan industri terbesar di era kekaisaran Mesir di tepi barat Luxor.

Baca Juga  Ketua DPR RI Sebut Ada Agenda Besar di Balik Pengepungan Asrama Mahasiswa Papua

“Banyak misi luar negeri mencari kota ini dan tidak pernah menemukannya,” tambah Hawass yang diketahui pernah menjabat sebagai Menteri Negara untuk Urusan Purbakala Mesir.

Zahi Hawass Center For Egyptology

Deskripsi dari Hawass ini juga bisa dilihat langsung melalui foto-foto yang kini sudah beredar luas. Di sebuah foto, memang terlihat ada bangunan yang dipenuhi dengan kotak-kotak dinding dari batu-bata.

Lalu di beberapa foto lain, ada deretan benda terbuat dari batu, kendi tembikar yang pecah, hingga kerangka manusia yang tergeletak di situs Luxor.

Hawass kemudian mengonfirmasi bahwa ‘kota emas’ itu dulunya aktif selama pemerintahan bersama Amenhotep III dengan putranya, Akhenaten.

Namun, setelah naik takhta, Akhenaten dan rakyatnya justru meninggalkan kota tersebut. Sebagai gantinya, Akhenaten lalu mendirikan Amarna, ibu kota baru di Provinsi Minya, sekitar 250 km selatan Kairo dan 400 km utara Luxor.

(red/akurat)