Lima Puisi Wirda Salong

oleh -457 views
Link Banner

PEREMPUAN YANG PIAWAI MERAWAT RINDU

Adalah perempuan paruh baya.
Berambug ikal bergelombang di rumahku.
Mari berkunjung di rumah sederhana kami.
Tempat segala cinta beranak pinak.
Akan kau temui dia, Inaku.
Inaku yang teramat piawai merawat rindu.
Kau akan disambut senyum malu-malu perempuan kampung.
Yang berharap kau tak malu-malu berada disini.
Sambil dipersilahkan duduk pada kursi sofa reot milik kami.
Kau akan disuguhi segelas teh panas dan sepiring “Ampas terigu” dengan harum kayu manis, buatan tangannya sendiri.
Yang menurut anaknya, adalah yang paling sedap sejagad.

Kau akan dengar langsung dari sudut bibirnya.
Cerita tentang lelaki sederhana miliknya.
Lelaki sederhana yang selalu pandai berguyon, pun membanggakan.
Perempuan berwajah sayu yang mulai mengeriput itu, begitu antusias memulai segala tentang lelaki penakluk hatinya itu.
Binar matanya mengatakan kerinduannya, namun begitu piawai ia merawatnya.
Lelaki yang beberapa tahun lalu menjadi penghuni bangsal rumah sakit, hingga akhirnya berpulang menuju-Nya, menuju keabadian.
Lelaki itu, Babaku.

Baca Juga  Tok… Komisi III DPR Setuju, Listyo Sigit Prabowo Kapolri

(Negeri Lima, 16-Maret-2021)

========

WAE ELA YANG RESAH

(Mengenang 9 tahun, jebolnya bendungan Wae Ela, Negeri Lima 25-Juli-2014 – 25-Juli-2021).

Ada gunung patah, Ulak Hatu kami mengenalinya.
Sungai melebar sepanjang dikenang.
Lalu lalang eksafator, penanda jumawa manusia.
Ilalang-ilalang bersenandika, diatas tanah berdebu yang lapang.

Desas-desus pohon sagu mengabarkan.
Bahwasanya ia tak terawat.
Musabab orang-orang sibuk bicara bantuan.
Katanya datang dari Tuan dan Nyonya parintah.

Lalu menceracau antara hak dan wajib.
Mengukur sejahtera perihal angka-angka.
Hingga lupa.
Batupun tumbuh merawat kenangan.

Pada puing-puing Van-Harlen, ada luka yang menganga.
Dibilur-bilur luka, kaum papa menyeka keringat.
Jangan sampai jatuh di tanah.
Percuma katanya.

Di jingga langit senja di kaki air Wae Ela.
Yang mengendapkan Henahelu, Elatua dan Elasiahu.
Sepanjang kenangan jembatan Wae Lalan.
Jangan sampai dunia hilang dari genggaman.

Baca Juga  Warga New York Rayakan Kekalahan Trump dengan Suka Ria

(Negeri Lima, 23-Agustus-2020)

=======

KEKASIH

Sekian juta duka telah kita telan
Pahitnya terasa membumbung tinggi
Memenuhi ubun-ubun
Menghentak isi hati

Sebelum waktu berlalu
Izinkan beta merindui segala suka
Segala kenang yang beradu cepat
Menemui ingatan-ingatan
Yang berebut tempat di kepala

Merindui keras kepalamu yang bebal
Isi-isi pikiranmu yang liar
Selalu menghidupi diskusi kecil kita
Tentang mimpi-mimpi yang sederhana
Terkadang konyol dan nyeleneh
Tangis dan tawamu yang candu

Ombak dan rujak natsepa yang manis
jika kita lelah di hiruk pikuk kota
Atau ngopi sambil menikmati senja di defenisi cafe

Beta memeluk erat dirimu dan mimpi-mimpi katong.
Dua anak kampung yang setia menyulam harap pada sederhananya kehidupan

Ambon, 9 Juli 2021

=====

DI BALIK JENDELA

Melihat dunia hitam putih.
Orang-orang sibuk memacari kenangan.
Lalu melacuri diri atas nama kasih.
Beberapa resah di persimpangan.

Baca Juga  Belasan Warga Adat di Buru Jadi Mualaf

Dunia hanya hitam.
Kata-kata serupa mahar.
Bibir-bibir berucap kelam.
Suara redup menyisakan samar.

Dunia katanya putih.
Orang-orang sibuk mencari suaka.
Katanya citna mesti diraih.
Nyatanya sibuk meraih kuasa.

(Negeri Lima, 20-Agustus-2020)

=====

DI PASAR

Di pasar.
Kutemui kehidupan dengan rona rupa-rupa.
Tapi tidak pura-pura menghidupi hidup-hidup sebelum mati.

Di pasar.
Kuhampiri, setiap tetes keringat sebesar biji jagung.
Yang tak diizinkan jatuh ke tanah.
Ia menari-nari pada wajah-wajah lesu.
Yang berjibaku menghidupi hidup-hidup.
Musabab, pantang pulang sebelum dihidupi kenyataan.

Bahwasanya, di rumah.
Ada hidup-hidup yang menantinya pulang.
Untuk menghidupi kehidupan-kehidupan.
Sebelum senja, hingga malam menutup mata.
Sebelum senja, hingga mati ditutup usia.

(Mardika,10-September-2018)

No More Posts Available.

No more pages to load.