Lima Puisi Wirda Salong

oleh -500 views

Desas-desus pohon sagu mengabarkan.
Bahwasanya ia tak terawat.
Musabab orang-orang sibuk bicara bantuan.
Katanya datang dari Tuan dan Nyonya parintah.

Lalu menceracau antara hak dan wajib.
Mengukur sejahtera perihal angka-angka.
Hingga lupa.
Batupun tumbuh merawat kenangan.

Pada puing-puing Van-Harlen, ada luka yang menganga.
Dibilur-bilur luka, kaum papa menyeka keringat.
Jangan sampai jatuh di tanah.
Percuma katanya.

Di jingga langit senja di kaki air Wae Ela.
Yang mengendapkan Henahelu, Elatua dan Elasiahu.
Sepanjang kenangan jembatan Wae Lalan.
Jangan sampai dunia hilang dari genggaman.

(Negeri Lima, 23-Agustus-2020)

=======

KEKASIH

Sekian juta duka telah kita telan
Pahitnya terasa membumbung tinggi
Memenuhi ubun-ubun
Menghentak isi hati

Sebelum waktu berlalu
Izinkan beta merindui segala suka
Segala kenang yang beradu cepat
Menemui ingatan-ingatan
Yang berebut tempat di kepala

Baca Juga  Dolar AS Tembus Rp18.000, Pemerintah Kaji Penyesuaian Tarif Batas Atas Tiket Pesawat

Merindui keras kepalamu yang bebal
Isi-isi pikiranmu yang liar
Selalu menghidupi diskusi kecil kita
Tentang mimpi-mimpi yang sederhana
Terkadang konyol dan nyeleneh
Tangis dan tawamu yang candu

Ombak dan rujak natsepa yang manis
jika kita lelah di hiruk pikuk kota
Atau ngopi sambil menikmati senja di defenisi cafe

Beta memeluk erat dirimu dan mimpi-mimpi katong.
Dua anak kampung yang setia menyulam harap pada sederhananya kehidupan

No More Posts Available.

No more pages to load.