Israel langsung menyambut dukungan tersebut. “Saya berterima kasih kepada Presiden Biden dan pemerintah AS atas komitmen mereka memveto resolusi sepihak ini,” ujar Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar. Menurutnya, resolusi ini justru akan memperkuat Hamas dan menghambat proses negosiasi pembebasan sandera.
Sikap AS dikritik banyak pihak. Duta Besar Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, menyebut langkah Israel memperluas operasi militer di Gaza sambil membatasi bantuan sebagai “tidak manusiawi”. Ia menegaskan bahwa Inggris mendukung gencatan senjata dan meminta investigasi atas jatuhnya korban sipil.
“Distribusi bantuan yang dikontrol ketat oleh Israel bukan hanya tidak efektif, tapi juga tidak bermora. Israel harus segera mencabut pembatasan agar PBB bisa bekerja menyelamatkan nyawa,” kata Woodward.
Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, menyebut veto AS sebagai “penghalang utama” dalam upaya menghentikan konflik. Ia menilai dunia sudah bersatu menyerukan gencatan senjata, namun AS tetap bersikeras membela sekutunya.
Situasi di Gaza semakin memburuk dengan ancaman kelaparan akibat blokade bantuan. Laporan dari PBB menyebutkan sedikitnya 27 orang tewas dan ratusan lainnya terluka ketika pasukan Israel menembaki warga yang mengantre bantuan makanan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah skema distribusi bantuan yang didukung AS dan Israel.









