Lulus atau Luruh: Makna Idulfitri yang Sering Terlewat

oleh -7 Dilihat

Apakah kita akan tetap setia pada pelajaran itu, meski tanpa pengawasan?
Atau kita kembali menjadi diri yang lama—perlahan luruh tanpa kita sadari, seolah tak pernah ditempa olehnya?

Idulfitri mengajarkan satu hal yang sering luput: kembali itu tidak cukup sekali. Kita harus terus kembali, setiap hari, setiap saat—kepada fitrah yang telah disentuh selama perjalanan itu.

Sebab yang disebut fitrah bukan sekadar keadaan yang dirayakan, melainkan keadaan yang harus dijaga.

Dan pada akhirnya, kemenangan bukanlah tentang telah melewati Ramadan.
Kemenangan adalah tentang tetap hidup dalam nilai-nilai yang telah kita pelajari—meski tanpa tepuk tangan, meski tanpa sorak perayaan.

Jika kita mampu mempertahankan itu—meski hanya sedikit, meski tertatih—maka mungkin, kita tidak hanya merayakan Idulfitri.

Baca Juga  NU dan Kekuasaan De Facto

Kita benar-benar pulang.

Namun ada satu pelajaran yang kerap paling sunyi, tapi justru paling menentukan: empati pada sesama manusia.

Ramadan tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal yang khusyuk, tetapi juga menyentuh relasi horizontal yang sering kita abaikan—tentang bagaimana kita memandang yang lemah, memperlakukan yang berbeda, dan hadir bagi mereka yang tak punya suara.

Jika setelah semua itu hati kita tetap berjarak, maka ada yang belum selesai dalam perjalanan kita.
Sebab ibadah yang tak melahirkan kepedulian, hanya akan berhenti sebagai ritual—tanpa pernah menjelma menjadi kehangatan bagi sesama.

No More Posts Available.

No more pages to load.