Idulfitri seharusnya menjadi titik di mana kita tak hanya kembali kepada Tuhan, tetapi juga kembali kepada manusia. Menyapa yang terlupakan, merangkul yang tersisih, dan menghadirkan diri sebagai kebaikan yang nyata—bukan sekadar niat yang indah, tetapi tindakan yang terasa. Karena pada akhirnya, ukuran kelulusan itu bukan hanya seberapa dekat kita pada langit, tetapi seberapa dalam kita berpihak pada bumi.
Dan mungkin, di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya: ketika kebaikan yang kita rawat tak berhenti pada diri sendiri, tetapi menjelma menjadi kasih yang mengalir bagi sesama. (**)










