Malam Ela Ela Dirayakan di Kedaton Kesultanan Ternate

oleh -38 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Warga kota Ternate, Maluku Utara menggelar titual tradisi malam ela-ela yang digelar dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar, Sabtu 8 Mei 2021.

Perayaan malam ela-ela adalah tradisi turun-temurun yang kerap dilaksakan setiap 27 ramadan itu, dipusatkan di Kedaton Kesultanan Ternate.

Tampak hadir Wali Kota Ternate Tauhid Soleman, Kepala Dinas Kebudayaan Mohdar Din, dan Kepala Dinas Pariwisata Rizal Marsaoly, serta Jo Ngofa atau anak Sultan, Hidayat Mudaffar Sjah.

Tradisi malam Ela-ela yang dilaksanakan pada 27 ramadan di Kedaton Kesultanan Ternate. || Foto: Gustam Jambu/JMG

Bertindak memimpin doa yakni Mufi Majojo Kesultanan Ternate, Hidayatussalam Sehan.

Usai pembacaan doa, para Badan Sara Kesultanan Ternate berjumlah 8 orang membawa 18 bunga lilin ke Sigi Lamo atau Masjid Besar Kesultanan Ternate dengan iring-iringan pemukulan gong atau tetabuhan yang dikenal dengan nama Cika Momo.

Sekadar diketahui, tradisi Cika Momo ini biasa dilakukan 4 tahun sekali, yakni pada malam qunut atau malam ke-15 ramadan, malam Ela-ela, Idul Fitri, dan Idul Adha

Baca Juga  Sebulan Operasi, Dapur Umum TNI-Polri Distribusikan 36.000 Bungkus Makan Kepada Masyarakat Terdampak Covid-19

Fanyira Tolongara Kesultanan Ternate, Rinto M. Tolongara mengatakan, prosesi tersebut hanya dilakukan oleh para abdi dalam kesultanan.

Tradisi malam Ela-ela yang dilaksanakan pada 27 ramadan di Kedaton Kesultanan Ternate. || Foto: Gustam Jambu/JMG

Dari situ ikut serta para badan sara masjid kesultanan yang terdiri dari para imam dan khatib.

Dorang (mereka) turun dari kedaton menuju masjid kesultanan,” terang Rinto melansir halmaherapost.com, Sabtu 8 Mei 2021.

Rinto pun meluruskan wacana kegiatan pawai obor yang sempat memicu polemik di masyarakat, lantaran dikira dilarang oleh Pemerintah Kota Ternate dengan alasan corona.

“Tara (tidak) begitu. Tradisi yang sering dilakukan pada malam ke 27 ramadan itu sebagai sebuah kearifan lokal. Dan itu yang kita kenal dengan malam Ela-ela,” terangnya.

Baca Juga  Realisasi sertifikasi SDM pariwisata masih belum mencukupi
Tradisi malam Ela-ela yang dilaksanakan pada 27 ramadan di Kedaton Kesultanan Ternate. || Foto: Gustam Jambu/JMG

Rinto bilang, jika ada sultan, tradisi tersebut dirangkaikan dengan ritual yang disebut kabasarang uci.

Dalam prosesi itu, terdapat 13 anak laki-laki yang belum baligh atau disebut ngare ici.

Mereka bertugas membawa panji-panji kesultanan, tongkat para sultan terdahulu, serta bunga lilin yang berjumlah 12.

“Itu dibawah oleh para moding (badan sara) secara bersama-sama ke masjid kesultanan, sekaligus melaksanakan salat isya dan tarawih secara berjamaah,” jelasnya.

Tradisi malam Ela-ela yang dilaksanakan pada 27 ramadan di Kedaton Kesultanan Ternate. || Foto: Gustam Jambu/JMG

Tapi karena saat ini Sultan Ternate yang ke – 48 Mudaffar Sjah telah meninggal, sehingga prosesi tersebut belum dilaksanakan.

Baca Juga  BALA Komitmen Wujudkan Ambon Terang di Malam Hari dan Bersih di Siang Hari

“Jadi yang ambil alih melaksanakan itu hanya badan sara. Mereka yang membawa lilin sebagai tanda prosesi Ela-ela jatuh di malam tersebut,” pungkasnya.

(red/hp)

No More Posts Available.

No more pages to load.