Masjid dalam ajaran Islam tidak hanya dipahami sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol ketakwaan dan persatuan umat.
Al-Qur’an dan hadits menjelaskan bahwa pendirian masjid harus dilandasi niat yang ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperkuat nilai-nilai keimanan dan kebersamaan kaum Muslimin.
Sejarah Berdirinya Masjid Dhirar
Dalam buku Ghazawat Ar-Rasul Durus Wa’l Ibar Wa Fawa’id karya Ali Muhammad Ash-Shallabi yang diterjemahkan oleh Masturi Irham dan M. Asmui Taman, dikisahkan tentang seorang pendeta Nasrani dari kabilah Al-Khazraj di Madinah bernama Abu Amir.
Pada mulanya, Abu Amir dikenal sebagai tokoh yang dihormati di kalangan masyarakat Madinah, khususnya kaum Anshar, karena kedudukannya sebagai ahli kitab. Namun, seiring semakin kuatnya pengaruh Rasulullah SAW dan berkembangnya Islam di Madinah, sikap Abu Amir berubah menjadi permusuhan terbuka.
Kebenciannya terhadap Islam semakin nyata ketika ia ikut menghasut musuh-musuh kaum Muslimin pada Perang Badar agar memusuhi Rasulullah SAW dengan lebih keras.
Peran Abu Amir kembali tampak pada Perang Uhud. Saat itu, ia menggali sejumlah lubang sebagai jebakan dengan tujuan mencelakakan Rasulullah SAW. Akibatnya, Rasulullah SAW mengalami luka, gigi beliau patah, dan kepala beliau terluka.









