Oleh: Wirol Haurissa, Penulis dan penyair
Ada sebuah rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah tidur beralaskan terpal. Pulau Mayau yang bergetar sebenarnya mengingatkan kita betapa rapuhnya beton, dan betapa sejuknya pelukan.
Di pengungsian ini, waktu seolah melambat. Kita tidak lagi dikejar oleh jam dinding, melainkan dipandu oleh deburan ombak dan kerlip bintang yang terasa lebih dekat dari biasanya.
Di antara barisan tenda, kita melihat keajaiban kecil yang sering luput dalam keseharian. Tawa yang menjelma Cahaya. Di mana anak-anak berlarian dan menari di atas tanah yang sempat berguncang, membuktikan bahwa trauma bisa dikalahkan oleh kegembiraan.
Di situasi yang lain. Aroma kopi yang mengepul dari tungku darurat menjadi undangan paling tulus untuk duduk bersama, melarutkan status dalam cangkir-cangkir yang sederhana.
Angin laut Batang Dua membawa pesan bahwa setiap badai pasti menyisakan tanah yang lebih subur untuk ditanami harapan baru. Untuk itu kita tidak sedang meratapi apa yang runtuh; kita sedang merayakan apa yang tersisa—yaitu kita.
Foto ini adalah sejarah bahwa di titik paling rendah sekalipun, martabat manusia tetap menjulang setinggi puncak gunung.
Suatu hari nanti, ketika rumah-rumah baru telah berdiri dengan atap yang lebih kokoh dan cat yang lebih cerah, kita akan menoleh ke belakang.








