Utopia Petani dan Realitas Agraria yang Getir
Janji mengentaskan kemiskinan desa dan memutus tengkulak—hingga klaim “petani bisa liburan ke luar negeri”—mengabaikan masalah struktural agraria:
* Ketimpangan Lahan: Mayoritas petani menguasai tanah di bawah 0,5 hektar. Tanpa reformasi agraria sejati, memotong marjin penggilingan tidak akan mengubah nasib mereka.
* Pendekatan Komando: Swasembada pangan top-down dan food estate terbukti berulang kali gagal karena mengabaikan ekosistem lokal dan lingkungan.
Janji manis ini jadi candaan pahit di tengah lonjakan harga pupuk, kelangkaan air, dan ancaman penggusuran atas nama investasi.
Inovasi Represi Pajak: Mencekik Rakyat, Memanjakan Oligarki
Untuk menutupi defisit akibat program boros, negara bertindak ekstraktif kepada rakyat bawah, namun bertekuk lutut di hadapan pemilik modal besar:
* Penyanderaan Hak Dasar: Ancaman penolakan BBM bersubsidi bagi penunggak pajak mengubah bantuan sosial menjadi alat pemaksa fiskal.
* Militerisasi & Social Shaming: Pelibatan aparat kewilayahan hingga penempelan stiker penunggak pajak memberi intimidasi psikologis bagi warga yang kesulitan finansial.
* Kontras Menyakitkan: Saat rakyat kecil diburu instrumen negara, para konglomerat justru disuguhi karpet merah berupa tax amnesty berturut-turut.
Menggugat Arah Kebijakan Ekonomi









