Peristiwa Isra Mikraj dan Penetapan Salat
Peristiwa Isra Mikraj diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Isra’ ayat 1, dan diperkuat oleh berbagai hadis sahih. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW memimpin salat berjemaah bersama para nabi lain di Masjidil Aqsa sebelum naik ke langit.
Riwayat menyebutkan Nabi Musa AS berperan penting dengan menyarankan pengurangan jumlah salat dari 50 menjadi lima kali, sebagai bentuk kemudahan dari Allah Swt.
Setelah menerima perintah ini, Nabi SAW kembali ke Makkah dan segera mengajarkan kewajiban salat lima waktu kepada umatnya. Praktik ini langsung diimplementasikan oleh umat Islam awal dan menjadi bagian integral dari syariat. Ulama seperti Imam Malik pada abad ke-8 mencatat pelaksanaan salat lima waktu dalam kitabnya, Al-Muwatta’, sebagai salah satu pilar fikih Islam.
Al-Qur’an juga menegaskan kewajiban salat dalam Surah An-Nisa ayat 103, yang menyebutkan salat adalah ibadah wajib yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Bagi umat Islam awal, salat bukan sekadar ritual, melainkan cara untuk menjaga hubungan spiritual dengan Allah Swt dan membentuk kehidupan yang teratur.
Makna dan Peran Salat 5 Waktu
Salat lima waktu tidak hanya berfungsi sebagai ibadah ritual, tetapi juga memiliki dampak mendalam pada kehidupan individu dan komunitas Muslim. Rasulullah SAW bersabda salat adalah amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.








