kata-kata jatuh satu per satu di bibir waktu
menjadi debu yang tidak lagi ingin disebut makna
dan aku pun mengerti, perjalanan tidak pernah keluar
sebab segala jalan hanya melingkar ke pusat yang sama
wahai yang tak bernama, yang kusebut sebagai “kau”
engkau adalah cermin yang menghapus wajahku sendiri
hingga yang tersisa bukan lagi pencari atau yang dicari
melainkan satu kesadaran yang tidak bisa dipisahkan
aku bukan kehilanganmu
aku hanya sedang dilebur dari anggapan memiliki
seperti kapal yang kembali menjadi kayu di laut
seperti laut yang kembali menjadi diam di dalam Tuhan
Ambon, 29 April 2026
===========
Palung dan Nama yang Tak Kembali
adinda, engkau mutiara di palung rasa
yang lahir dari luka yang tak bernama
kita ini dua biduk dari satu dermaga
namun ditulis waktu dalam garis berbeda
engkau laksana camar di angin senja
tak pernah singgah pada tanah yang nyata
aku hanyalah kapal berkarat usia
terikat sunyi di pelupuk semesta
malam di matamu tidak lagi gelap
ia menjadi cahaya yang pecah dalam tabir
sunyi yang dahulu menjerit di dada
kini bersujud menjadi doa tak berakhir
aku pernah menyebutmu sebagai takdir
namun aksara gugur sebelum sempat lahir
maka namamu tinggal dalam zikir batin
berulang dalam denyut yang paling dalam
hujan turun bukan lagi sekadar air
melainkan isyarat dari langit yang berlapis
ia memindah luka ke ruang yang halus
tempat rindu tidak lagi dapat dibalas











