Menyoal Perjanjian Pertahanan Indonesia-Amerika Serikat

oleh -744 views

Kita seharusnya belajar dari Ukraina dan dari Iran! Mereka mampu menghadapi hegemon-hegemon di dunia internasional dengan pertahanan yang kecil, murah, dan efektif. Tapi tentu tidak seprestisius seperti kalau belajar di Fort Leavenworth, Kansas. Namun secara militer, jelas posisi Indonesia adalah seperti Ukraina atau Iran.

Mesin-mesin mahal itu tidak akan ada artinya ketimbang drone yang murah. Ukraina bahkan memakai kabel serat optik yang tipis, yang panjangnya beberapa kilometer, untuk mengirim drone yang menghantam posisi-posisi strategis Rusia.

Perang adalah kelanjutan dari politik. Itu jelas. MDCP yang ditandatangani Indonesia dengan AS itu menjadi statemen tentang posisi Indonesia di kawasan mau pun di dunia internasional.

Baca Juga  Sejarah 1 Muharram: Awal Penanggalan Tahun Baru Islam yang Berasal dari Peristiwa Hijrah

Di bawah Prabowo, Indonesia berusaha ‘nyelempit’ di ketiak kekuatan-kekuatan hegemonik dunia: Amerika Serikat, Rusia, dan China. Dan semua kekuatan ini punya kepentingannya masing-masing. Hari ini Prabowo di Russia untuk “mengamankan pasokan minyak” dari negara itu. Putin tentu akan minta konsesi dari Indonesia. Dan mungkin tidak akan melawan Trump juga karena AS sudah membuka sangsi embargo minyak Rusia. Namun, China akan melihat ini.

Namun satu hal yang jelas: Presiden Prabowo tidak pernah bersimpati pada negara-negara kecil yang lebih lemah. Dalam perang Iran vs AS/Israel, dia kelihatannya condong ke yang terakhir. Dalam soal Gaza, dia lebih mengakomodasi kepentingan Israel ketimbang Palestina. Dalam perang Ukraina-Rusia, dia bahkan sejak sebelum menjadi presiden sudah lebih condong ke Rusia.

No More Posts Available.

No more pages to load.