Merah, Hitam dan Putih

oleh -382 views

“Mina, mungkin Mama ingin kau membantunya saat sudah cukup besar.” Aku mengelus rambut bergelombang Mina. Sedikit basah dan tebal.
“Aku tidak mengerti.”
“Kau akan mengerti suatu hari nanti.”

Aku beranjak dari kursi malas itu, berjalan menuju Zel, lalu merangkulnya dari belakang. Dia sedikit tersentak. Pipinya merona bak buah delima. Aku berbisik di dekat telinganya, “Antarkan Mina ke sekolah hari ini. Ada hal yang harus kulakukan di basement.”

Aku bisa mengetahuinya dengan jelas. Tatapan menurut yang dia tunjukkan padaku menyorotkan rasa sedih dan takut. Aku berlagak tak peduli dengan melepas rangkulanku padanya dan melangkah sedikit cepat menuju kamar. Ruangannya tak terletak jauh dari dapur, berjarak sepuluh langkah dan di sampingnya, terdapat vas yang berisi Mawar Hitam.

Baca Juga  Soroti Dugaan Pelanggaran HAM di Tambang Malut, DPR RI Siapkan Kunjungan Khusus

Setelah pintu besar yang menjadi pembatas ruangan itu terbuka, ruangan bernuansa putih dan biru menyambutku. Kasur yang di atasnya terdapat selimut tertata rapi, serta setelan jas hitam, dasi biru gelap, kemeja putih, dan celana hitam disetrika sampai licin. Sudut bibirku sedikit terangkat.

Aku menarik sebuah buku di rak pojok kanan ruangan. Bunyi gesekan yang sedikit memekakkan telinga menyambut karena rak yang bergeser terbuka. Menampilkan tangga menuju bawah tanpa pencahayaan. Untung saja, kamar ini kedap suara. Mina tidak akan pernah tahu jika terdapat ruang tersembunyi di sini.

No More Posts Available.

No more pages to load.