Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka, dan apabila kalian tidak segera memperbaikinya maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah merdeka! Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami kemerdekaan, karena hanya merdeka adil dan makmur itu dirasakan.
Dengarlah perlawananku ini…karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka 100 persen.”
~ Pesan Tan Malaka saat bertemu dengan Sukarno, Hatta dan Agus Salim pada 24 Januari 1946.
Delapan puluh satu tahun bangsa ini menjelajahi kemerdekaan, selama itu propaganda kesejahteraan terus dikumandangkan segelintir elite. Rakyat kerap dijejali mimpi-mimpi dan harapan pada kehidupan makmur, adil, dan sentosa. Faktanya, kalangan tertentu dan sedikit itu kaya-raya, sebagian besar lainnya hidup dalam besutan kebodohan dan kemiskinan.
Lebih dari sekadar penguasaan materi, bahkan tak ada ruang untuk tempat bersemayam nurani. Kekuasaan kolonialisme dan imperialisme modern itu tak melulu mewujud orang asing, ia hadir sebagai saudara sendiri, sebangsa dan setanah air.









