Messi, Avengers Endgame dan Nasehat Hoja

oleh -107 views
Link Banner

Oleh: Asgar Saleh

Layar bioskop. 22 hari terombang ambing di angkasa luar, stok oksigen menipis, apa yang bisa dilakukan. Namanya Iron Man, tetapi tak punya kekuatan. Meski masih suka bikin gagarap, tokh Tony Stark, sang Iron Man tak bisa bersembunyi dari kegetiran.
Matanya nyaris tertutup rapat. Bahunya ringkih. Tubuhnya kurus ceking. Ia sudah yakin berhenti berperang. Karena itu, Ia menolak bercerita apapun, tentang masa lalu dan apa yang telah diperjuangkan.

Tak seperti film Marvel lainnya yang megah dan penuh heroisme, Avengers Endgame menyajikan sisi lain. Tak ada optimisme. Sosok superhero yang merajai imajinasi publik tak mentas. Dalam film terakhir ini yang merunut kembali sukses dan kedigdayaan para superhero, Marvel memilih sebuah antiklimaks yang getir namun manis. Para sosok pahlawan ini bukan lagi seleb yang tak pernah kalah. Ada keletihan. Mereka sejatinya ternyata cuma manusia. Punya sisi lemah. Tak bisa move on. Yang pasti bingung.

Kebingungan itulah yang nampak di wajah Messi, superhero bagi sebagian publik yang terus bermimpi akan bikin keajaiban. Saat Roddy Alberto Zamrano, tukang masak asal Ecuador meniup peluit akhir di Belo Horizonte Stadion, Messi dan para pengagumnya jelas berharap ada Kapten Marvel yang datang menolong. Mirip penyelamatan terhadap Iron Man. Sayangnya Marvel tak lagi berproduksi. Jadi, yang ada hanya kekecewaan. Mengutuk tendangan superhero yang hanya menemui tiang gawang Alisson Becker.

Lahir di Rosario, 24 Juni 1987, Lionel Andres Messi sama seperti bocah Argentina lainnya. Suka menendang semua yang bundar. Saat berusia 5 tahun. Messi kecil yang dijuluki sang kakak dengan si Kutu, belajar bola di SSB Grandiola. Tiga tahun kemudian, sang ayah, Jorge Horacio membawanya ke Newell’s Old Boy, klub profesional pertama Messi. Sayangnya, di usia 11 tahun, Messi divonis bergizi buruk. Kekurangan hormon pertumbuhan. Punya bakat tetapi tak punya biaya pengobatan membuat dunia Messi nyaris berhenti. Beruntung, sang ayah bertemu bos Barcelona dan jadilah Messi diboyong ke Catalan untuk menjalani penyuntikan hormon di kakinya secara rutin sambil berlatih bola Jika bertahan di Argentina, keluarga jelas tak punya dana 9 milyar sebulan untuk membayar hormon pertumbuhan.

Baca Juga  Rovik Akbar Afifuddin Pimpin FPTI Maluku

Pertalian inilah yang menjadi jawaban bermoral setiap ada tanya, mengapa Messi lebih wow saat bermain untuk Barcelona dibanding berjuang untuk tanah tumpah darahnya. Messi berutang hidup di Barca. Di luar urusan hati, Messi secara tekhnis memang punya ketrampilan superhero. Sayangnya, superhero itu hanya tayang di Barcelona. Tak diputar di Argentina.

Di Barcelona, Messi punya rekor superhero. 10 kali juara La Liga, 6 Copa Del Rey, 4 gelar Champions dan tiga titel juara dunia antar klub. Secara individu, Ia peraih lima Ballon D’Or. Bermain untuk Blaugrana sejak 1 Mei 2005 di usia 17 tahun, Messi sudah membuat lebih dari 600 gol. Punya rekor kemenangan terbanyak di La Liga yakni 339 kali melewati rekor Iker Casillas. Ia butuh 50 gol lagi untuk melewati rekor abadi Pele sebagai pencetak gol terbanyak bersama Santos (673 gol).

Sedunia silau dengan rekor ini. Satu satunya yang menganggap Messi bukan yang terbaik adalah Pele. Legenda hidup Brazil ini menganggap dirinya lebih baik dari Messi. Alasannya Messi cuma punya satu kaki untuk bikin gol. Pele punya kaki kanan, kiri dan kepala untuk bikin gol. Menurut Pele, Maradona bahkan jauh levelnya di atas Messi. Begitu juga Cruijff dan Backenbauer. Atau bahkan Paulo Rossi dan Andreas Iniesta.

Jika ukurannya jersey Tango. Jelas benar opini Pele. Sejak debut untuk TimNas senior – di usia muda 18 tahun 347 hari- pada tahun 2006, Messi miskin gelar. Tiga partai final secara berurutan berakhir dengan kegagalan. 2014, Messi dengan lingkar ban kapten di lengan dikalahkan Jerman lewat gol Mario Goetze di babak perpanjangan waktu. Setahun setelah itu, Messi kembali bermain di final. Chile yang tak diunggulkan jadi juara Copa Centenario. Berselang setahun kemudian, gol panenka Alexi Sanchez saat adu penalti di hadapan publik Argentina kembali menghukum Messi sebagai superhero gagal.

Pagi ini, Messi dkk kembali gagal di Copa America. Cerita yang sebenarnya sudah biasa. Memperpanjang rekor takluk dari tim Samba menjadi 6 kali. Secara overall, hanya juara Piala Dunia U-20 dan Emas Olimpiade Beijing yang jadi penanda prestasi di level TimNas. Jelas mirip beda langit dan aspal dibanding prestasi Maradona. Sang legenda bahkan menyebut, Timnas Messi, jika melawan TimNas Tonga, negara kecil di pasific berperingkat 202, tetap akan kalah. Pasalnya, menurut Maradona, Messi dkk tak punya kebanggaan mengenakan jersey Albiceleste.

Baca Juga  Pemda Maluku Tenggara dan PT. Pos Salurkan Bantuan CBP PKMM dan Bantuan Sosial Tunai 2021

Secara tekhnis, kualitas superhero Messi sebagai individu memang tak bisa dibantah. Sayangnya, saat bermain untuk Barcelona, Messi dikelilingi banyak superhero lain yang berkontribusi menjaga keseimbangan. Memberi dukungan tanpa pamrih dan semuanya untuk Messi. Penunjukan pelatih dan pemain yang dijual atau dibeli Barcelona setiap tahun bahkan harus atas ijin Messi. Itulah mengapa Ronaldinho dan Deco harus out. Countinho jadi ban serep, Neymar hanya jadi barang dagangan. Lalu terbaru Mbappe menolak bergabung. Entah bagaimana nasib Griezmann nanti.

Di level TimNas, otoritas Messi juga sama. Penunjukan pelatih harus seijin La Pulga. Pemain yang masuk juga sama. Itulah mengapa Mascherano tetap punya tempat, beda dengan Icardi, Dybala, Tevez, Milito dan banyak superhero lainnya di Argentina yang tak punya ruang dan waktu. Setiap pemain TimNas harus melayani Messi. Bahkan Scaloni, juru taktik di Copa America 2019 menyebut, semua pemain bertekad membawa Tango juara sebagai hadiah untuk Messi. Tekad yang tak sebanding dengan kerja di lapangan.

Di beberapa diskusi dengan sesama penggemar bola, secara bercanda saya menyebut Argentina baru bisa juara jika Messi tak lagi bermain. Sebagai individu, dia superhero, tapi sebagai pemimpin, kualitasnya bahkan jauh dibanding Tony Stark yang membiarkan dirinya mati saat menumbangkan Thanos. Bahkan juga jauh dibawah level Tyrion Lannister, si cebol pemberani berotak cerdas dalam Game Of Thrones.

Brazil di Copa America tahun ini jadi kandidat serius justru karena Neymar tak bermain. Jika ada Neymar, Samba nyaris sama dengan Tango saat Messi ada. Dalam beberapa insiden, kepemimpinan Messi bahkan tersembunyi di balik Mascherano atau Aquero. Pemimpin di lapangan harus jadi motivator. Harus bicara kepada sesama pemain, memberi semangat, menjadi penggugat utama di hadapan wasit saat timnya dirugikan. Messi? Lebih banyak mou dan bersembunyi.

Baca Juga  Sesuaikan Dengan Edaran Mendagri, Bupati Halbar Kembali Terbitkan SK Satgus

Kegagalan Argentina di Copa America tahun ini mestinya mengisyaratkan pesan penting. Sudah saatnya Messi pensiun. Di usia 32 tahun, tak lagi ada optimisme. Namanya akan dikenang seperti Zico, Gary Lineker, Paulo Maldini, Eric Cantona, Ryan Giggs, Hristo Stoichov atau dewa kaki kiri lainnya yang bergelar Maradona dari Balkan, Georghe Hagi. Superhero di klub tapi moco balakaci di TimNas. Di banding Ronaldo yang berjaya dengan juara Eropa serta UEFA Nation Leaque saja Messi sudah tertinggal. Karena itu, saya berharap, Ballon D’Or tahun ini tak lagi memasukkan nama Messi. Lebih baik pilih Virgil Van Dijk atau bahkan Ronaldo.

Jika kegetiran atau kegagalan terlalu sering mampir, ada baiknya kita mengingat nasehat Nasruddin Hoja. Dalam buku selera humor yang diberi salah seorang fans Argentina seminggu lalu, Hoja bercerita. Suatu ketika, datanglah seorang anak muda yang menangis sesunggukan. Di hadapan sufi jenaka ini, anak muda itu curhat soal hidupnya yang susah dan terus dilanda kemalangan. Hartanya habis, temanpun pada berpaling. Padahal sebelumnya saat masih kaya, banyak teman yang datang, harta berlimpah.
“Bagaimana caranya saya menghadapi ini”, ratap pemuda itu.

Hoja terpekur sesaat. Lalu sambil senyum dia berkata, “pulanglah, beristirahat, jangan terlalu dipikirkan. Dalam seminggu anda akan kembali seperti semula”.
Mendengar itu, si pemuda bangkit penuh semangat, sambil memegang tangan Hoja, Ia minta kepastian. Benarkah akan kaya dan banyak teman lagi. Tak ada susah.
Hoja meluruskan, “Maksud saya, jika tak bersedih dalam seminggu, setelah itu anda akan terbiasa dengan hidup yang susah dan tak punya teman”.

Untuk teman teman pendukung Argentina yang tak bisa saya sebut satu satu karena saking banyaknya, nasehat Hoja layak ditiru. Tak usah bersedih, menggugat sana sini. Santai saja. Tetaplah Minum kopi hitam tanpa gula. Merokok dengan menghembuskan asap membentuk tanda Love untuk Messi. Makan yang teratur. Yakinlah setelah seminggu, hidup anda akan normal karena sudah terbiasa mendengar cerita Argentina Messi yang selalu gagal.
Selamat mencoba Kawans.