Herannya yang terjadi adalah berita media massa malah dibiarkan tenggelam dalam perjalanan waktu. Padahal soal ini sudah tergolong menghantam wibawa dan kehormatan partai ini. Dan potensial politik, sebenarnya dugaan ini juga menghantam public trust terhadap partai ini.
Lebih dari itu, mengambangkan masalah seperti ini atau laku bias para petugas partai pada umumnya, dari aspek etika politik, tentu menjadi problem yang cukup serius.
Jadi bagaimana mungkin PDI P memperjuangkan penegakkan hukum jika ada petugas partai terindikasi melakukan pelanggaran hukum?.
Jadi sebenarnya sangat berdasar jika saya kemudian menggunakan diksi metaforik tedong.
Diksi ini tidak mengandung makna merendahkan atau semakna itu. Malah para elit dan kader partai ini mesti berterima kasih kepada saya yang berterus terang dan menyentak kesadaran warga partai ini untuk mengambil lanngkah korektif dan perbaikan sebab sudah diketahui publik bahwa kondisi internal partai ini di Maluku sudah masuk kategori parah.
Jadi sebenarnya saya tidak merasa penting untuk meladeni reaksi Sahureka dan Pattilew yang menurut saya tersinggung hanya karena tidak cukup paham kritik dengan maksud baik.
Respons dua kader ini kalau dijelaskan dari patron-client perspective, akhirnya akan mengungkap siapa suhu di balik reaksi mereka.











