Sebagai produk budaya massa, seni mural kerap melekat dan menjadi ciri penting komunitas masyarakat urban untuk menyampaikan aspirasinya. Secara historis, dalam perkembangan seni mural di Indonesia, kita memang berhutang pada warisan kolonial. Pada fase pendudukan Jepang 1942-1945, relasi seni, seniman, dan Jepang menjadi saling membutuhkan.https://ac36496643a9d2d9a1d83ff682bd9417.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-38/html/container.html?n=0
Di satu sisi, Jepang menggunakan seni sebagai alat propaganda, sementara di sisi lain, para seniman memperoleh pendidikan, dukungan material, dan kesadaran akan kekuatan dan pengaruh seni dalam dunia politik. Inilah yang kemudian digunakan Lekra pada fase 20 tahun berikutnya.
Dari tangan Jepang, pelukis Indonesia banyak mendapatkan material seni dan mempelajari banyak teknik baru. Dari karikaturis Jepang Saseo Ono misalnya, beberapa seniman Indonesia mulai mengenal mural dan belajar membuat sketsa cepat di luar ruangan.
Berbeda dengan pada saat periode kolonialisme Belanda di mana akses untuk mendapatkan pendidikan dan material lukis sangat terbatas. Akses tersebut hanya bisa dijangkau oleh para bangsawan dan orang Eropa. Tidak mengherankan ketika Jepang memberikan semua kebutuhan untuk membuat karya secara gratis, jumlah pelukis Indonesia meningkat tajam.





