Artinya, meskipun kelas elite tersebut berbeda tingkatannya, tetapi dalam memainkan politik baliho, sama-sama memerlukan dukungan logistik yang besar. Hanya kandidat yang memiliki dukungan logistik kuat yang bisa memainkan politik baliho secara massif.
Kedua, menjamurnya mural politik sebenarnya adalah respon alamiah atas terjadinya kooptasi ruang publik terutama yang dilakukan oleh negara dan pasar. Mural politik versi rakyat hadir untuk menjawab massifnya parade baliho yang sedang dimainkan para elite politik di berbagai ruang publik. Mural politik versi citizen adalah oase atas kegersangan dan kekosongan makna baliho politik yang sering menghadirkan “pepesan kosong” dan janji manis para politisi.
Jika baliho politik tampak menghadirkan kesan formal dengan narasi yang masih samar-samar (karena dihadirkan bukan pada tahun politik); maka mural politik bersifat lebih ekspresif. Dalam berbagai bentuknya, mural politik tidak hanya menghadirkan kritik sosial dan politik, tetapi juga karya seni yang artistik.
Ketiga, munculnya mural politik juga dapat dibaca dalam konteks terjadinya perebutan ruang publik. Secara teoritis, Habermas (1962) sebenarnya telah menyediakan basis teoritik yang komprehensif terkait prasyarat ruang publik yang ideal.





