Mural Politik dan Perebutan Ruang Publik

oleh -209 views

Perubahan struktural ruang publik di zaman modern saat ini ditandai oleh bangkitnya kapitalisme, industri kebudayaan dan kekuatan korporasi dalam arena ruang publik. Ribuan baliho iklan yang menyerbu ruang publik secara tidak langsung menggiring alam bawah sadar manusia untuk terus berperilaku konsumtif. Jejaring kapitalisme dan pasar bebas dengan lihai memanfaatkan ruang publik untuk tujuan komersial.

Begitu juga dengan baliho politik. Parade baliho politik tentu didesain dalam rangka membidik ceruk pasar elektoral dengan menstimulus orang untuk menjadi pemilih atau partisan.

Dalam perspektif teori Habermas, korporasi-korporasi besar dan pemerintah cenderung mengambil alih ruang publik, sementara warga negara cukup senang menjadi konsumen barang, jasa, atau administrasi politik. Dengan kata lain, warga negara hanya diletakkan dalam konteks sebagai konsumen atau partisan. Kondisi ini tentu mengebiri peran dan partisipasi politik warga negara di berbagai ruang publik yang tersedia.

Baca Juga  Trust Lebih Penting daripada Angka, Dengarkan Juga Nasihat SBY

Dalam perkembangannya saat ini, ruang publik bergeser menjadi arena pertarungan terbuka simbol-simbol dan identitas politik kelompok. Karena dukungan modal, kelas politik elite tampak mendominasi ruang-ruang publik tersebut. Akibat hegemoni kelas politik elite inilah, para kritikus sosial baik para seniman ataupun elemen sipil lainnya, ramai-ramai membuat mural politik.