Ngasem: Pasar yang Terlambat Dikenali Dunia

oleh -335 views
Hermanto

Oleh: Hermanto, wartawan senior yang tinggal di Yogyakarta

Tak ada yang sungguh-sungguh menyangka bahwa pasar kecil, yang dulu hanya dikenal sebagai tempat membeli burung perkutut dan melati untuk sesajen, kini menjadi panggung ramai manusia dari Seoul, Bandung, Amsterdam, dan Jakarta Selatan.

Pasar itu bernama Ngasem

Ia berdiri agak malu-malu di selatan Keraton Yogyakarta, seperti seorang punggawa yang tahu dirinya bukan bagian dari garis depan, tapi tetap hadir tiap hari demi menjaga keteraturan semesta. Pasar Ngasem tidak pernah memanggil orang. Tapi orang datang juga ke sana—karena yang paling sunyi kadang justru paling dicari.

Didirikan pada akhir abad ke-18, tak lama setelah Keraton Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, Ngasem mula-mula bukan pasar burung. Ia adalah pasar rakyat: menjual sembako, ayam, bunga untuk upacara adat, dan kebutuhan dapur para abdi dalem. Letaknya yang berdekatan dengan Taman Sari menjadikan Ngasem titik temu yang ganjil antara dapur rakyat dan pemandian ratu.

Baca Juga  Sengketa Lahan OSM Jadi Sorotan, DPRD Maluku Siap Surati Mabes TNI Jika Kodam Kembali Absen

Waktu melanjutkan pekerjaannya. Pelan-pelan, Ngasem diserbu suara lain: kicau, kokok, gemerisik bulu. Pasar burung lahir, bukan karena direncanakan, tapi karena cocok. Di bawah pohon asam, sangkar-sangkar digantung. Di antara kios sayur, orang menilai nada murai. Seekor jalak suren bisa ditawar dengan mata menyipit dan gumam yang nyaris tak terdengar.

No More Posts Available.

No more pages to load.